Bolehkah Membersihkan Organ Kewanitaan Menggunakan Tisu Basah?

PUBLIKSATU.CO - Mungkin karena tisu toilet tak tersedia atau kurangnya pemahaman, tisu wajah dan tisu basah digunakan sebagai pengganti tisu toilet. Namun, apakah itu aman?
Faktanya, dr. Jesslyn tidak menganjurkan pemakaian tisu wajah untuk area kewanitaan. Pasalnya, ada sebuah studi di Kanada yang menemukan bahwa beberapa jenis tisu wajah memiliki kandungan formaldehida.
Ini merupakan senyawa dalam ramuan formalin.
“Penggunaan tisu yang mengandung zat tersebut untuk membersihkan organ intim bisa memicu iritasi. Lebih buruk lagi, formaldehida juga dituding berperan dalam mencetuskan kanker,” jelas dr. Jesslyn.
Selain itu, beberapa produk tisu wajah juga mengandung bedak. Bila dipakai untuk membersihkan bagian luar vagina, maka dapat terjadi iritasi, bahkan infeksi.
“Bahkan, beberapa penelitian juga menduga bahwa vagina yang sering dibersihkan dengan tisu wajah yang mengandung bedak berpotensi mengalami kanker,” kata dr. Jesslyn lagi.
Lantas, Bagaimana dengan Tisu Basah?
Ada kemungkinan tisu basah mengandung bahan yang dapat merugikan kesehatan vagina. Lebih lanjut, efek penggunaan produk tersebut dalam jangka panjang pun belum diketahui secara jelas.
KlikDokter, dr. Sara Elise Wijono, MRes mengatakan bahwa pada beberapa wanita, pemakaian tisu basah khusus area kewanitaan menyebabkan keluhan gatal, sensasi terbakar, iritasi, dan reaksi alergi.
“Tisu basah juga dapat mengandung pewangi, yang berpotensi menyebabkan reaksi alergi pada kulit. Kandungan bahan kimia di dalamnya pun berisiko mengiritasi serta mengganggu sistem hormonal. Sayangnya, bahan pewangi ini sering kali tidak tercantum secara jelas pada kemasan produk,” dr. Sara menambahkan.
Selain itu, tisu basah juga biasanya menggunakan pengawet untuk mencegah pertumbuhan bakteri, jamur, serta berbagai kuman penyakit. Sama seperti pewangi, bahan pengawet juga dapat menimbulkan reaksi alergi pada beberapa wanita.
Jenis pengawet yang perlu diwaspadai antara lain:
methylisothiazolinone dan methylchloroisothiazolinone yang dapat memicu reaksi alergi berat;
iodopropynyl butylcarbamate (IPBC) yang juga dapat memicu alergi (sudah dilarang penggunaannya di Uni Eropa); dan