2020, SMK Kelautan Kadatua Mulai Aktif

PUBLIKSATU, BUTON SELATAN - Potensi Kabupaten Buton Selatan (Busel) adalah keluatan dan perikanan. Namun sayangnya, potensi itu tak didukung dengan semangat berdirinya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kelautan di Kadatua. SMK Kelautan tersebut macet.
Siswanya tak ada, gurunya pun terpencar di sejumlah sekolah terdekat. Gedung sekolah yang dibangun menggunakan dana hibah pemerintah pusat tak terurus. Lengkap penderitaan. Hingga macet tak dikelola maksimal.
Padahal potensi perikanan dan keluatan lagi gencar-gencarnya menjadi potensi unggulan Kabupaten Busel untuk digenjot. Berdirinya SMK Kelautan di Kadatua ini dengan semangat untuk menjawab salah satu tantangan potensi perikanan dan keluatan itu.
Kondisi ini dibenarkan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sultra, Asrun Lio saat ditemui wartawan di Rujab Bupati Busel beberapa waktu lalu.
Kata Asrun Lio, Dinas Pendidikan Provinsi Sultra mengambil alih SMK Kelautan Kadatua. "Saya sudah perintahkan Koordinator Cabang Dinas (KCD) Pendidikan untuk tinjauan sekolah yang tidak punya siswa. Sudah tidak ada Kasek, sudah tak ada gurunya itu di Kadatua," katanya.
Hasilnya mencengangkan. Kondisi sekolah yang sudah tak terkelolah secara maksimal.
Menurutnya, SMK keluatan di Kadatua itu harus diselamatkan. Sebab ini aset yang harus dipelihara.
Kedepan ia berjanji, akan merekrut kembali kepala sekolah dan guru sehingga dapat dikelolah kembali. Tahun 2020 mendatang diharapkan dapat aktif kembali menerima siswa baru.
Ia menyampaikan angin segar akan menetapkan formula pengelola sekolah Kasek dan guru paling lambat Desember nanti.
Fakta lapangan SMK Kelautan Kadatua ini dibangun tahun 2018. Tahun 2019 triwulan pertama masih ada siswa barunya. "Akhir akhir ini sudah tidak ada sama sekali siswa yang mau belajar," katanya.
Ia mengaku, pihaknya masih mempertimbangkan apakah SMK itu diubah programnya. Atau apakah masih tetap masih jurusan yang sama.
Menurutnya, masih ada gedung bangunan baru di SMK Kelautan itu. Sejumlah gedung masih layak. Hanya beberapa gedung yang sudah bermasalah.
"Hasil evaluasi sementara. Pengelola sekolah sudah tidak ada. Kasek yang mengurus sekolah itu sudah tidak ada," imbuhnya.
Kasus ini sudah bergulir dikepolisian. Pasalnya, Kasek diduga menggelapkan dana BOS. Pasalnya sekolah itu sudah tutup tak lagi menerima siswa baru. Namun triwulan pertama tahun 2019 masih tetap terima bantuan.
"Triwulan pertama 2019 masih ada realisasi. Tapi faktanya disekolah itu sudah tidak ada aktifitas belajar mengajar. Siswanya juga sudah tidak ada," imbuhnya.
Kata dia, Kasek masih melakukan pencairan triwulan pertama 2019. Padahal sudah tidak ada aktifitas belajar mengajar. Tahun 2018 lalu masih ada SMK Kadatua.
"Tahun 2019 sudah tidak ada Siswanya. 2018 masih ada dana bos langsung masuk kerekening sekolah," katanya.
Ironisnya lagi, Kasek juga membangun ruang prakter 5 kilo dari sekolah induk. Ruang praktek sekolah ini maenjadi temuan.
"Kamii lkan dilaporkan ke Inspektorat kenapa dibangun jauh dari sekolah. Guru yang sempat terpencar akan ditarik kembali," katnaya.
Kondisi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kelautan Kadatua Kabupaten Buton Selatan (Busel) yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah dari dana Bansos Pemerintah Pusat kian memprihatinkan. Bangunan mulai rusak, akses jalan masuk dari jalan utama juga tidak ada.
Selain itu, aktivitas belajar mengajar juga tak berjalan. Betapa tidak, saat ini sekolah tersebut tak ada lagi siswanya.
Memprihatinkan di tengah kondisi daerah menggenjot pengembangan potensi unggulan di sektor perikanan dan kalautan.
SMK Kelautan Kadatua dibangun beberapa tahun lalu (sebelum Busel mekar dari Kabupaten Buton). Saat ini kondisinya kian tak terurus.
Hal itu menarik perhatian komisi II DPRD Busel. Dipimpin langsung Wakil Ketua DPRD Busel, Pomili Womal, Ketua Komisi II, La Ode Ashadin, Wakil Ketua Karlina Sukarman serta para anggota komisi II, Lismayarti, La Ishaka, La Opo langsung mengkonsultasikan sekolah tersebut ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sultra, Jumat (1/11).
Rombongan komisi II DPRD Busel ini diterima langsung Kepala Disdikbud Sultra, Asrun Lio, di ruang kerjanya.
Wakil Ketua Komisi II DPRD Busel, Karlina Sukarman mengungkapkan, konsultasi dilakukan untuk meminta Disdikbud Sultra mengaktifkan kembali SMK Kelautan Kadatua. Selain itu, agar akses jalan masuk dari jalan utama juga bisa dibangun. Pihaknya juga meminta Disdikbud Sultra untuk menyikapi persoalan tersebut.
Terkait jabatan kepala sekolah, kata dia, itu menjadi kewenangan pemerintah provinsi, dalam hal ini Disdikbud Sultra. “Intinya kami mengkonsultasikan agar bagaimana caranya SMK Kelautan yang ada di Kadatua itu bisa diaktifkan kembali,” jelas Karlina.
Lebih lanjut politisi muda PDIP ini mengatakan bahwa dari konsultasi ini akan ditindaklanjuti dengan meninjau langsung SMK Kelautan Kadatua. Komisi II DPRD Busel tinggal menunggu kesiapan waktu tim dari Disdikbud Sultra.
Persoalan pendidikan di tujuh kecamatan di Busel memang sedang menjadi salah satu fokus perhatian komisi II DPRD Busel.
Sebelumnya juga Karlina mengatakan, persoalan pendidikan ini menjadi perhatian serius komisi II DPRD Busel untuk terus dikawal dan mendapat perlakuan serius serta skala prioritas.
“Persoalan pendidikan kita ini menjadi skala prioritas komisi II khususnya kami akan perjuangan kendala-kendala maupun keluhan di sekolah-sekolah yang ada,” katanya saat ditemui beberapa waktu lalu di DPRD Busel usai dilantik.
Ia menambahkan, kabupaten memiliki potensi pariwisata. Maka dari itu idealnya sejak dini ada program khusus atau wajib para siswa-siswi pandai berbahasa ingggris untuk mendukung pariwisata itu.
Karena tidak menutup kemungkinan kedepan akan ada turis mancanegara yang berkunjung ke Busel. Maka sejak dini mata pelajaran guru bahasa Inggris harus mendukung siswa-siswi bisa berbahasa Inggris. “Jadi menerut saya siswa SMA atau dimulai dari SMP atau paling tidak SD sudah harus bisa berbahasa Inggris. Mesti sejak dini kita persiapkan,” katanya. (aga)