Berita Terkini
Butur

Jalan (Politik) Butur

Oleh Redaksi Publiksatu / Andre · Minggu, 19 Januari 2020 19:29 WIB · 3 menit baca
Jalan (Politik) Butur

PUBLIKSATU,SABTU (18/01) lalu, saya kembali mengunjungi Buton Utara (Butur). Seperti biasa, sebelum melangkahkan kaki kesana, satu pertanyaan klise yang saya ajukan: Bagaimana kondisi jalan Butur sekarang?

Soal itu saya tanyakan kepada rekan Herlin, yang bertandang ke Baubau, awal pekan lalu. Dia katakan jalan sudah lebih bagus. Seraya bertanya apakah ke Butur bawa mobil sendiri atau mobil umum. Saya jawab, mobil angkutan luar kota.

Herlin ke Baubau naik sepeda motor. Dia menunggangi sendiri "kuda besinya". Dari Butur pagi, tiba siang di Baubau. Pulangnya, sekitar pukul 16.00 Wita dari Baubau, sampai di Butur pukul 21.00 Wita. Lima jam. Ditambah cidera di kaki karena sempat terjatuh dari sepeda motor. Saat tiba di Butur, dia perlihatkan ke saya luka lecetnya itu.

Kali ini saya putuskan ke Butur naik angkutan luar kota. Alasannya, medio November lalu ketika ke Butur, jalannya rusak parah.

Saya buat metafor, kencangnya ombak di laut, lebih dahsyat "ombak darat" Butur. Bahkan sopir mobil yang saya tumpangi mengatakan, kalau ada wanita hamil, bisa keguguran kandungannya. Makanya kalau ada penumpang wanita hamil, dia mengatur kecepatan agar tidak membahayakan kandungan.

Memang benar. Saat itu, kondisi jalan rusak parah. Syukurnya sopir mobil yang saya tumpangi kategori ahli. Sehingga di tengah jalan berlubang, kubangan lumpur, mobil yang dikendarainya meliuk-liuk hingga sampai tujuan.

Hampir sepanjang perjalanan, dia mengatakan satu saja permintaannya kepada bupati. Jalan diperbaiki. Kalau memang berat diaspal, cukup perkerasan saja.

Lantas dia tunjukkan ke saya jalan dimana saja yang paling rusak parah. Termasuk titik dimana ada mobil yang terbalik karena jalan rusak.

Kala itu, saya sempat menggunggah video kerusakan jalan Butur melalui akun media sosial. Berharap stakeholder terkait memperhatikan dan turun tangan menyelesaikan masalah.

Kebetulan saat itu ada beberapa alat berat disejumlah titik jalan rusak. Dalam hati saya berdoa, semoga alat berat ini membenahi jalan. Benar, keesokan harinya melintasi jalan yang sama untuk balik ke Baubau, jalannya berubah. Ada kemajuan dibandingkan hari sebelumnya.

Walau begitu, sopir yang saya tumpangi mengaku kapok dengan janji-janji politik para kandidat. Sebelum berkuasa, omongannya manis, setelah berkuasa seolah langsung dijangkiti penyakit amnesia. Lupa dengan ucapannya sendiri. Maka itu, ia katakan, hanya akan memilih bupati yang memperbaiki jalan.

Memang Butur sementara dalam suasana Pilkada. Dijadwalkan September 2020 dilaksanakan coblosan.

November lalu, di pinggir jalan saya melihat baru tiga figur yang memasang baliho. Masing-masing, Abu Hasan (petahana), Ridwan Zakariah (mantan Bupati Butur), dan M Aswadi Adam.

Nah, kemarin, langsung naik tiga kali lipat. Selain tiga nama tadi, masih ada, Muliadin Salenda, Darmawan Wiridin, Suhuzu, Fahrul Muhammad, H Muhammad, dan Nobertus Simon.

Semuanya menghadap jalan. Semoga bukan hanya baliho, tapi juga orangnya melihat realitas jalan Butur yang butuh sentuhan kongkrit.

Menariknya lagi, jalan yang saya lewati berubah drastis. Walau banyak yang belum diaspal, tapi sudah mengalami perkerasan. Kondisinya lebih baik, waktu tempuh lebih singkat.

Namun begitu, ada saja yang berujar: Bagus jalan pertanda Pilkada sudah dekat. Hehehe.

Apakah jalan Butur nanti jadi komiditas politik baru diperhatikan? Bukankah politik adalah mengurusi urusan rakyat. Salah satu di antaranya adalah jalan.

Terlepas dari status jalannya, apakah jalan negara, provinsi, atau kabupaten. Yang jelas rakyat Butur mau jalannya bagus. Lantas ke mana mengadu? Yang terdekat tentu kepada kepala daerahnya.

Alhasil, apakah kondisi jalan bisa menjadi faktor untuk memuluskan jalan politik para kandidat di kursi 01? Hanya rakyat Butur yang bisa menjawab.(Follow Instagram: @irwansyahamunu)