Berita Terkini
Buton

Keluarga Tawanan di Buton Terima Kabar Kelompok Abu Sayyaf Minta Tebusan 15 Miliar

Oleh Redaksi Publiksatu / Kasim · Rabu, 22 Januari 2020 16:10 WIB · 4 menit baca
Keluarga Tawanan di Buton Terima Kabar Kelompok Abu Sayyaf Minta Tebusan 15 Miliar
ILUSTRASI

PUBLIKSATU, BUTON - Kelompok Abu Sayyaf diduga menyandera lima Warga Negara Indonesia (WNI), Kamis (16/1/2020) malam lalu. Satu diantara bersal dari Kabupaten Buton, Kecamatan Kapontori, Desa Kamelanta, Dusun Tobe atas nama La Baa.

Untuk dibebaskan, keluarga La Baa mengaku menerima informasi bahwa kelompok bersenjata itu meminta tebusan Rp 15 miliar.

"Saya tidak tahu perorangnya yang jelas untuk tebusan yang diminta Abu Sayyaf itu 15 miliar berdasarkan Informasi yang kami terima dari pihak TNI," ujar Pj Kades Kamelanta, Hamsiri mewakili keluarga korban saat dihubungi publiksatu.co, Rabu (22/1/2020).

Hamsiri mangaku tebusan sebanyak itu terlalu besar untuk keluarga La Baa. "Artinya sampai berapa tahun pun sampai diakhir hayatnya pun sebesar itu tidak akan dapat," ujar dia dengan nada sedih.

Lanjut, Hamsiri berharap pemerintah sekiranya bisa mengatasi masalah ini. Sehingga para sandera dapat dibebaskan dalam kondisi selamat.

Tidak hanya itu, ia juga mengharapkan koordinasi Bupati La Bakry bersama instansi terkait di Jakarta dapat membuahkan hasil sesuai harapan keluarga korban. "Harapan kita mudah-mudahan disana bisa menyampaikan keluhan-keluhan itu," harapnya.

Hamsiri mengaku, mulanya keluarga korban tidak mengatahui bahwa La Baa mengadu nasib di negara berjuluk negeri Jiran, Malaysia.

"Memang yang bersangkutan dia keluar. Tapi tidak ditau di ke malaysia. Dia keluar negeri itu. Yang ditaunya merantau ke bagian Papua sana," ujarnya.

"Tapi berdasarkan informasi, bahkan ada foto dan KTP yang di dapatkan dari yang bersangkutan itu bernar itu merupakan keluarga," imbuhnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Bupati, La Bakry tidak tinggal diam mengetahui satu dari lima korban penyanderaan kelompok Abu Sayyaf Kamis (16/1/2020) malam lalu merupakan warga Buton.

Ia berupaya agar warganya, La Baa asal Dusun Tobea, Desa Kamelanta, Kecamatan Kapuntori bisa bebas dari tawanan kelompok bersenjata itu dengan melakukan koordinasi bersama instansi terkait di Jakarta.

"Insya Allah, kebetulan saya hari ini akan ke Jakarta, dalam rangka Audience di DPD RI untuk Provinsi Kepton, sekaligus saya coba akan bangun komunikasi degan instansi terkait di Jakarta soal ini," ujar dia kepada publiksatu.co lewat pesan Whatsapp, Selasa (21/1/2020).

Tidak hanya itu, atas nama seluruh jajaran pemerintah daerah maupun secara pribadi, Bupati menyatakan prihatin atas insiden itu. Ia berharap korban terus diberi perlindungan hingga bisa kembali berkumpul bersama keluarga di Buton.

"Atas nama seluruh jajaran pemerintahan daerah maupun secara pribadi sy nyatakan prihatin atas kejadian ini, mudah-mudahan Allah swt melindungi yang bersangkutan hingga bisa kembali berkumpul degan keluarga di Buton," harapnya.

Seperti di beritakan JPNN, Lima warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di Negeri Sabah Malaysia dilaporkan diculik saat berada di perairan Tambisan, Tungku Lahad Datu, Sabah, Malaysia. Sementara tiga kru kapal lainnya dibebaskan.

Informasi yang diperoleh melalui siaran tertulis aparat kepolisian Tambisan, Sabtu (18/1), menyebutkan lokasi penculikan tidak jauh dari kasus yang menimpa Muhammad Farhan (27) Cs pada 23 September 2020 tepatnya di perairan Tambisan Tungku Lahad Datu.

Kali ini kejadiannya berlangsung pada Kamis (16/1) sekira pukul 20.00 waktu setempat saat kedelapan WNI menangkap ikan menggunakan kapal kayu dengan izin terdaftar Nomor SSK 00543/F.

Musibah terhadap kedelapan WNI yang menggunakan kapal yang terdaftar atas nama majikan di Sandakan ini diterima laporannya oleh aparat kepolisian maritim Lahad Datu pada Jumat (17/1) sekira pukul 13.17 waktu setempat.

Setelah mendapatkan laporan, aparat kepolisian negara itu bergerak melajukan pencarian akhirnya melihat kapal bergerak dari arah Filipina memasuki perairan Malaysia.

Keberadaan kapal yang digunakan WNI tersebut terpantau radar Pos ATM Tambisan pada Jumat sekira pukul 21.10 waktu setempat.

Aparat kepolisian maritim Lahad Datu menahan kapal tersebut sambil melakukan penggeledahan dan ditemukan tiga kru semuanya WNI.

Ketiga WNI yang ditemukan bersama kapalnya adalah Abdul Latif (37), Daeng Akbal (20) dan Pian bin Janiru (36).

Sedangkan lima rekannya yakni Arsyad bin Dahlan (42) selaku juragan, Arizal Kastamiran (29), La Baa (32), Riswanto bin Hayono (27) dan Edi bin Lawalopo (53) dipastikan disandera.

Dari siaran tertulis aparat kepolisian maritim Lahad Datu itu menyebutkan hasil interogasi terhadap ketiga WNI yang dilepaskan menceritakan bahwa pada saat sedang menangkap ikan didatangi enam orang bertopeng menggunakan kapal cepat.

Setelah itu, langsung dibawa bersama kapalnya ke wilayah perairan Filipina. Namun hanya lima rekannya yang disandera sedangkan tiga orang dibiarkan pulang untuk membawa kapalnya kembali ke Tambisan.

Aparat kepolisian Lahad Datu berjanji akan melakukan penyelidikan setelah menerima laporan.

Sebelumnya, Konsul RI Tawau Sulistijo Djati Ismoyo pernah menyatakan, agar tidak ada lagi kasus penculikan terhadap WNI pascapenyelematan Muhammad Farhan (27) dari sandera Kelompok Abu Sayyaf.

Pada kesempatan itu, Djati mengingatkan WNI yang beraktivitas di laut agar menjaga keselamatan dan waspada terhadap segala kemungkinan yang mencurigakan.(Cor2)