Berita Terkini
Baubau

Ice Breaking

Oleh Redaksi Publiksatu / Andre · Jumat, 28 Februari 2020 04:34 WIB · 3 menit baca
Ice Breaking

PUBLIKSATU.CO,TENSI tinggi. Demikian termometer suhu sosial yang terjadi di Kota Baubau akhir bulan ini.

Bermula dari indikasi kasus pembunuhan di Kanakea yang hingga kini belum ditemukan pelakunya. Lantas kasus pembunuhan yang menewaskan dua wanita. Alhamdulillah kasus terakhir pelakunya sudah diringkus. Walaupun sebelumnya ada aksi blokir jalan dilakukan warga, tuntutannya meminta kepada aparat untuk segera menemukan pelakunya.

Ditambah lagi dengan berita soal potensi gempa 7,1 Skala Richter (SR) yang menghebohkan publik Baubau. Plus beredarnya video syur ABG. Jadilah opini yang berkembang semakin tak terkendali.

Padahal, pada waktu yang sama, Pemkot menggelar iven MTQ tingkat kota. Hajatan religius tersebut terlihat kalah pamor dari rentetan beberapa kejadian tadi.

Memang sulit mengendalikan opini. Apalagi di era media sosial seperti sekarang. Kerja jari lebih laju dibandingkan aktivitas berpikir.

Ditambah dengan bumbu sana sini, justru yang terjadi malah memunculkan opini baru. Tak jarang, kenyataannya jauh dari fakta sebenarnya.

Nah, disinilah potensi munculnya berita palsu atau hoax terjadi. Celakanya lagi, justru berita hoax ini lebih cepat beredar dibandingkan berita asli.

Maka itu, Kamis (27/2) sejumlah pimpinan media diundang Dinas Kominfo untuk sharing isu-isu strategis pembangunan Kota Baubau. Sejumlah rekan pekerja pers menumpahkan pandangannya pada forum yang dihadiri langsung Kadis Sadarman tersebut.

Saat diberikan kesempatan berkomentar, saya katakan kejadian di Baubau belakang ini merupakan bentuk kontraksi sosial. Walau bersifat alami, namun tidak bisa dipandang sebelah mata.

Terbukti, bila tidak dikendalikan justru blunder kemana-mana. Ujungnya mengganggu Kamtibmas.

Beberapa waktu lalu, saya sempat bertemu pengurus KONI Kota Baubau. Saya mendapat informasi, lebih 30 Pengcab tergabung di bawahnya.

Nah, kalau setiap Pengcab buat satu iven, rata-rata setiap bulan ada dua lomba yang digelar. Hal tersebut mengundang atensi masyarakat berpartisipasi. Dengan begitu, mengurangi kegiatan negatif yang dilakukan masyarakat. Sebab fokusnya pada hajatan yang digelar tersebut.

Ruang kosong itulah yang harus diisi. Sehingga tidak ada peluang untuk melakukan tindakan berakses mengganggu Kamtibmas. Semua stakeholder wajib terlibat. Sebab peran menjaga stabilitas sosial bukan hanya ada di pundak pemerintah, tapi pada seluruh masyarakat.

Seraya berkelakar, sekarang Baubau punya La Aco atau Muhammad Adriansyah. Salah seorang peserta Liga Dangdut Indonesia 2020 yang ditayangkan salah satu tv swasta nasional ini, setiap penampilannya bisa menyihir audiens. Mestinya bisa menjadi salah satu penawar untuk mencairkan kebekuan.

Dulu, ketika Bonebone-Tarafu (Bobota) memanas, bisa dingin karena demam Fildan. Ya, setiap kali Fildan tampil, nyaris semua mata terhipnotis di depan layar kaca menyaksikan penampilannya. Hingga yang bertikai pun lupa dengan konfliknya.

Bukan hanya itu, banyak titik menggelar acara nonton bareng (Nobar). Mereka lupakan sejenak segala masalah, rasa gundah gulana.

Inilah yang saya sebut dengan Ice Breaking. Teknik untuk mencairkan kebekuan. Meski tidak direkayasa, bisa bekerja secara alami.

Apakah daya magis La Aco bisa menjadi Ice Breaking?(Follow Instagram: @irwansyahamunu)