Pilkada Serentak 2020, Pengamat: PDIP Akan Kesulitan Jika Tidak Utamakan Kader
Bagikan

PUBLIKSATU - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memiliki kencenderungan pragmatisme politik. Terutama di wilayah Sumatra Utara, saat memajukan nama Tri Tamtomo pada pemilihan gubernur Sumut. Hasilnya, calon PDIP kalah dari para pesaingnya.
Demikian disampaikan pengamat politik Shohibul Ansor saat dihubungi Kantor Berita RMOLSumut, Selasa (9/3).
Menurut Shohibul Ansor, contoh tersebut bisa jadi pengalaman bagi PDIP dalam menetapkan calon dalam Pemilihan Walikota Medan 2020. Saat ini ada incumbent Akhyar Nasution yang sudah dikenal banyak warga kota dan merupakan kader tulen PDIP sejak 1995. Akhyar juga merupakan anak dari Anwar Nasution yang merupakan kader PDI, dan pernah menjadi pengurus partai.
Selain itu, pola kerja dan loyalitas Akhyar di PDIP juga sudah banyak yang mengetahui. Bahkan saat menjadi anggota DPRD Medan, Akhyar adalah kader yang memiliki semangat kerja pelayanan kepada masyarakat dan kerja partai yang seimbang.
“Loyalitas kader seperti Akhyar ini lebih menguntungkan bagi partai PDIP, dibandingkan dengan sosok lainnya di luar partai. Kemudian, potensi kemenangan pada Pilwakot juga lebih berpeluang besar karena Akhyar didukung grassroot PDIP dan incumbent," ucap Shohibul Ansor.
"Khawatirnya bagi PDIP, jika tidak kader menjadi keutamaan pencalonan kepala daerah, kerja-kerja partai di tingkat PAC akan menyulitkan PDIP di setiap suksesi pemilihan kepala daerah maupun pemilihan legislatif," tambahnya.
Lanjut Shohibul Ansor, jika PDIP ingin terus menjaga harmonisasi partai, para elite di PDIP layaknya tak mencederai semangat kerja para kader yang sudah lebih banyak memakan debu dan keringat.