Jaga Ketahanan Fiskal Di Tengah Wabah Corona, DPR Dukung Pemerintah Terbitkan Perppu
Bagikan

PUBLIKSATU - Pertumbuhan ekonomi di Indonesia perlahan mulai rontok digerogoti oleh wabah virus corona. Tidak hanya di Indonesja sebanyak 200 negara terdampak corona juga mengalami hal yang sama.
Demikian yang dikatakan Ketua DPR RI Puan Maharani lewat pidato perdananya membuka sidang ke-III DPR RI sekaligus menutup masa reses anggota dewan.
Puan mengurai dampak corona mulai dari pelemahan nilai tukar Rupiah, perlambatan ekonomi di sektor strategis (Industri, Perdagangan, Pertanian, Jasa, Pariwisata, dan sektor riil), pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan, penundaan investasi, serta tekanan terhadap harga komoditas strategis.
“Sejumlah asumsi makro dalam penyusunan APBN tahun Anggaran 2020 telah mengalami berbagai perubahan yang sangat signifikan, yaitu pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, dan harga minyak,” ujar Puan di ruang rapat paripurna, Gedung Nusantara II, Senin (30/1).
Puan menambahkan, Indonesia diprediksi akan mengalami koreksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2020 ini, yaitu dari Asumsi Pertumbuhan ekonomi 5,3 persen pada tahun 2020, menjadi berkisar 4 persen sampai dengan 5,1 persen.
Nilai Tukar Rupiah, yang semula di asumsikan dalam APBN 2020 adalah Rp 14.400/USD, saat ini nilai tukar Rupiah berada pada Rp 16.000an/USD. Dan, asumsi harga minyak dalam APBN 2020 adalah 63 USD/barel, dan saat ini harga minyak berada pada kisaran harga 31-34 USD/barel.
“Perubahan asumsi-asumsi makro tersebut akan berimplikasi pada postur APBN 2020, baik pada sisi penerimaan, belanja, defisit, maupun pembiayaan,” katanya.