Tolak Jenazah Covid-19 Bukan Perilaku Islami, PP Muhammadiyah: Masyarakat Jangan Berlebihan, Mereka Harus Kita Perlakukan Manusiawi
Bagikan

PUBLIKSATU - Masyarakat diimbau untuk tidak berlebihan menyikapi wabah Coronavirus Disease (Covid-19). Apalagi sampai menolak jenazah yang terinfeksi Covid-19, seperti yang terjadi di Desa Karang Tengah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah.
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadyah Abdul Mu'ti meminta masyarakat untuk tetap memerlukan korban dari keganasan virus corona itu secara manusiawi.
"Masyarakat hendaknya tidak berlebihan dalam menyikapi mereka yang terpapar virus corona baik yang masih dalam pantauan, sakit, atau wafat. Mereka tetap harus kita perlakukan secara manusiawi dengan penuh penerimaan dan kasih-sayang," ujar Abdul Mu'ti saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu, Rabu (1/4).
Abdul Mu'ti menuturkan, jika jenazah tersebut beragama Islam sedianya masyarakat mesti memperlakukan layaknya seorang muslim meninggal dunia.
"Jika mereka beragama Islam, hak mereka sebagai Muslim harus kita dinaikan," tuturnya.
Adapun, kata Abdul Mu'ti, terkait kekhawatiran masyarakat akan penularan virus mematikan itu, di dalam Islam telah diatur kondisi darurat sekalipun. Namun, tetap harus manusiawi terhadap sesamanya.
"Salah satunya apabila ada yang meninggal kita rawat sebagaimana tuntutan Syariat: dimandikan, dikafani, disalatkan, dan dimakamkan. Karena kondisinya tentu tidak semuanya. Kewajiban itu bersifat fardhu kifayah. Cukup diwakili oleh petugas medis atau keluarga yang sangat dekat apabila sehat dan kuat," jelasnya.