Dua Lansia Tinggal Bersama, Intip Cara Mereka Bertahan Hidup
Bagikan

Bangunan bekas gudang hasil kebun itu nampak rewot. Kumuh. Seakan menggambarkan jika bangunan itu bukanlah sebuah rumah. Namun siapa sangka, didalamnya dihuni dua orang lansia. Mereka bernama Mbah Sarijem (101) dan Mbah Tuni (80). Keduanya merupakan ibu dan anak.
Laporan: Darno Ufatma/Publiksatu.co
Mbah Tuni (80) dan ibunya Mbah Sarijem (101) tinggal di Kelurahan Liabuku, Kecamatan Bungi, Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara. Keduanya hidup bersama di gudang itu dengan keterbatasan. Himpitan ekonomi seakan menjadi teman keseharian mereka.
Pun demikian, dengan keterbatasan fisik, Mbah Tuni yang merupakan anak tunggal itu tetap berupaya menghidupi diri dan ibunya. Sehari-harinya, Mbah Tuni mencari kelapa jatuh untuk dijualnya ke pasar. Kadang pula ia menjual sayur milik tetangga dengan sistem bagi hasil.
Pada musim panen padi, Mbah Tuni pun turut mengumpulkan sisa-sisa gabah hasil panen warga setempat untuk dikonsumsi. Mbah Tuni memiliki prinsip pantang malu selagi itu halal. Begitulah upaya yang dilakukannya untuk bisa menyambung hidup.
Dalam sehari, rata-rata hasil penjualan kelapa tua dan sayur hanya Rp 20.000, uang tersebut kemudian digunakan untuk membeli beras dan lauk.
Namun penghasilannya kini menurun. Pandemi Covid-19 berpengaruh besar terhadap ekonomi keluarga ini.