Psikiater: Hashtag #IndonesiaTerserah Tunjukkan Sikap Depresi
Bagikan

PUBLIKSATU – Kampanye tanda pagar atau hashtag #IndonesiaTerserah viral lantaran ketidakpatuhan masyarakat atas Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk memutus mata rantai virus Korona. Ungkapan itu banyak diungkapkan oleh tenaga medis yang bekerja di garda terdepan.
Tagar tersebut merupakan bentuk kekecewaan para petugas medis kepada masyarakat bandel yang tidak mengindahkan PSBB. Saat para tenaga kesehatan mempertaruhkan nyawanya untuk melawan Covid-19, banyak orang yang seolah menganggap enteng keadaan.
Psikiater dari RS.Marzoeki Mahdi Bogor dan RS Siloam Bogor dr.Lahargo Kembaren, SpKJ menilai kata ‘terserah’ seolah cocok untuk menggambarkan bahwa kita sudah ‘menyerah’.
“Apakah terserah dan menyerah adalah pilihan terbaik saat ini? Ini adalah kasus penyakit baru yang belum terlalu dipahami. Semua kebijakan yang diambil tidak memuaskan semua pihak. Masyarakat belum paham mengenai bahaya dan bagaimana mencegahnya. Menganggap remeh keadaan menjadi sikap mental tanpa memikirkan perasaan banyak pihak yang berjuang mati-matian mengatasi, melawan dan bertahan dari Covid-19 ini,” katanya, Selasa (19/5).
Menurutnya kata ‘terserah’ dan ‘menyerah’ bukanlah hal yang harus dipilih saat ini. “Kita masih bisa terus belajar dan berlatih untuk menghadapinya. Jangan terserah, jangan menyerah. Realistis, segala sesuatu memerlukan waktu, tidak ada yang instan,” ujar Lahargo.
Dia mendorong siapapun untuk tetap kuat. Sulit bukan berarti tidak mungkin. Setiap orang dituntut berusaha lebih keras dan cerdas.
“Saat menyerah maka artinya sudah habis. Tapi saat berjuang dan terus berusaha maka bisa menjadi inspirasi bagi semua orang yang melihat, mendengar dan menyaksikan,” katanya.