Klub Bakal Terbebani Biaya Saat Restart Kompetisi Liga 1 2020

PUBLIKSATU, BOLA – Sejumlah klub bakal terbebani dengan biaya disetiap pertandingan. Protokol kesehatan yang diterapkan PSSI bakal memakan anggaran cukup besar.
Hal tersebut berpotensi memicu pembengkakan biaya operasional klub dalam setiap pertandingan. Itu pula yang dirasakan manajemen Persela Lamongan.
’’Melihat konsep yang sudah kita terima, tentu memakan biaya yang tidak sedikit di setiap pertandingan,’’ tutur Manajer Persela Edy Yunan Achmadi kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (10/6).
Salah satu anggaran terbesar adalah kewajiban seluruh pelatih, pemain, dan personel tim untuk melakukan rapid test seminggu sekali. Padahal, biaya rapid test untuk satu orang lebih dari Rp 300 ribu.
’’Ada sekitar 31 pertandingan yang masih harus dimainkan. Jadi, biaya yang dikeluarkan tentu cukup besar,’’ ujar pria yang juga menjabat Kabag Pembangunan Pemkab Lamongan tersebut.
Selain itu, manajemen klub berjuluk Laskar Joko Tingkir tersebut harus mempersiapkan sejumlah perlengkapan sesuai dengan protokol yang dibuat PSSI. Karena itu, beban operasional klub bakal membengkak. ’’Jadi, perlu ada pembahasan lebih lanjut sehingga klub tidak terlalu terbebani,’’ ucap Yunan.
Apalagi, manajemen Persela kini tidak memiliki pemasukan sama sekali. Ketika laga ditunda, tidak ada pemasukan dari penjualan tiket maupun sponsor. Bahkan, pengurus tim biru muda itu kelimpungan mencari pinjaman untuk penggajian. Hingga akhirnya tertutupi ketika dana kontribusi dari PT Liga Indonesia Baru (LIB) cair bulan lalu. ’’Belum lagi gaji pelatih, pemain, dan ofisial masih berjalan,’’ katanya.