Tambang Batu Giok Lebih Mematikan dari Korona, 170 Tewas Tertimbun
Bagikan

PUBLIKSATU – 170 penambang tewas tertimbun longsor di tambang batu giok Myanmar.
Dilansir dari Al Jazeera, Senin (6/7), salah satu istri dari penambang yang tewas, Aye Mon, 30, ditinggal sendirian dengan seorang putri berusia dua tahun. Suaminya dan adik laki-lakinya tewas tertimbun tanah longsor tambang batu giok.
Adiknya, Shwe Moe Tun, 22, telah melakukan perjalanan lebih dari 600 km (370 mil) dari desanya di Monywa ke daerah Hpakant di negara bagian Kachin di Myanmar utara demi mengubah nasib dengan menambang batu giok. Namun, Tuhan berkehendak lain.
“Suami saya telah bekerja di bisnis penambangan giok selama lebih dari 10 tahun. Tapi, ini pertama kalinya untuk adik saya. Itu adalah hari kerja keduanya di tambang,” kata Aye Mon kepada Al Jazeera.
Setidaknya 40 penambang batu giok yang tewas dalam bencana di tambang Wai Khar dimakamkan pada Sabtu (4/7). Sementara 77 lainnya dikebumikan di kuburan massal pada hari (3/7). Korban meninggal lainnya dikremasi menurut tradisi Buddha.
Korban tewas akibat tertimbun longsor di area tambang batu giok di Myanmar dikuburkan secara masal (YE AUNG THU / AFP)
Operasi penyelamatan masih berlangsung pada hari keempat, Minggu (5/7). Longsor terjadi ketika hujan lebat membanjiri area tambang. Kondisi itu membuat gelombang besar ari bercampur lumpur yang mengakibatkan tanah longsor dan mematikan.
“Suami saya dan saudara laki-laki saya dikuburkan bersama. Saya tidak memiliki apa pun untuk bergantung dalam hidup saya. Yang tersisa hanyalah putri saya yang baru berusia dua tahun,” kata Aye Mon.