Utang Kian Menggunung, Tiap Tahun Indonesia Diprediksi Akan Bayar Tanggungan Rp 1000 Triliun, Ekonom Indef: Ini Sudah Relatif Berat
Bagikan

PUBLIKSATU - Utang pemerintahan Joko Widodo 300 persen lebih besar di banding APBN era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Demikian kata ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didik J. Rachbini saat acara diskusi online series 3 bertema "Politik APBN Dan Masa Depan Ekonomi" yang diselenggarakan INDEF, Rabu (2/9).
Dalam pemaparannya, utang di awal Presiden Jokowi menjabat pada 2014 telah melakukan penerbitan utang sebesar Rp 660,8 triliun dengan membayar utang pada tahun 2014 sebesar Rp 253,5 triliun. Hal itu semakin meningkat setiap tahunnya.
Pada 2019, pemerintahan Jokowi melakukan penerbitan utang sebesar Rp 921,5 triliun dengan membayar utang pada 2019 sebesar Rp 475,2 triliun.
"Kemudian utang pokok yang sudah dilaksanakan 2019 kita lihat, Indonesia membayar 475 (triliun rupiah) utang pokok, kemudian membayar bunganya itu 275 (triliun rupiah) itu (jadi) 750 (triliun rupiah). Jadi setiap tahun pemerintahan Joko Widodo ini sekarang membayar utang Rp 750 triliun setiap tahun," ujar Didik J. Rachbini, Rabu (2/9).
Didik pun memprediksi beberapa tahun kemudian, Indonesia akan membayar utang lebih dari Rp 1.000 triliun per tahunnya.
"Nah seribu triliun lebih itu sama dengan 200 persen anggaran seluruh anggaran APBN Presiden Susilo Bambang Yudhoyono," kata Didik.