Nasional

Ketaatan Masyarakat Terhadap Protokol Kesehatan Rendah, Pengamat: Covid-19 Masih Mengancam, Bahaya Kalau Pilkada Dipaksakan

Oleh Redaksi Publiksatu / Sarmin · Sabtu, 12 September 2020 02:10 WIB · 2 menit baca
Bagikan
Ketaatan Masyarakat Terhadap Protokol Kesehatan Rendah, Pengamat: Covid-19 Masih Mengancam, Bahaya Kalau Pilkada Dipaksakan

PUBLIKSATU - Jelang gelaran pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara serentak pada Desember mendatang, kasus positif virus corona baru (Covid-19) belum menampakkan penurunan.

Bahkan dalam beberapa hari belakangan, tambahan pasien positif terus menembus rekor tertinggi di angka 3 ribuan per hari. Kondisi inilah yang perlu dipertimbangkan pemerintah dan penyelenggara Pemilu untuk mengevaluasi Pilkada yang akan digelar di 270 wilayah di Indonesia.

Menurut Direktur Eksekutif Lembaga Analisis Politik Indonesia (LAPI), Maksimus Ramses Lalongkoe, melihat kondisi Covid-19 saat ini, sudah tidak ada pilihan lain lagi selain menunda Pilkada 2020.

"Saya katakan, Pilkada sebaiknya ditunda karena bahaya covid mengancam masyarakat di tengah rendahnya ketaatan masyarakat mengikuti protokol kesehatan," kata Maksimus Ramses Lalongkoe dilansir dari Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (11/9).

Ia mengurai, wabah yang pertama kali muncul di Wuhan, China ini tak hanya meluluhlantakkan kesehatan masyarakat, melainkan juga segi ekonomi. Hal ini makin parah dengan minimnya ingkat kesadaran masyarakat untuk menjaga protokol kesehatan, baik menggunakan masker, mencuci tangan, hingga menghindari kerumunan massa.

"Saya melihat perkembangan persiapan Pilkada di berbagai daerah, enggak ada pakai masker, enggak ada protokol kesehatan. Apakah ini berperikemanusiaan? Tidak," tegasnya.

"Apalagi masih ada yang percaya Covid-19 tidak ada. Bahkan ada tokoh yang percaya ini (Covid-19) tidak ada. Sedangkan tokoh itu kan memiliki pengikut, ini kan berbahaya," sambungnya.

Bagikan