Jokowi Minta Teknologi Finansial Terus Dikembangkan, Tidak Hanya Sebagai Penyalur Pinjaman Dan Pembayaran Daring
Bagikan

PUBLIKSATU - Indeks Inklusi dan literasi keuangan Republik Indonesia (RI) masih menjadi Pekerjaan Rumah, menurut Presiden Joko Widodo.
Saat membuka acara 'Pekan Fintech Nasional', Kepala Negara memaparkan ineks inklusi keuangan Tanah Air yang masih lebih rendah ketimbang negara lain di Asia Tenggara.
"Indeks inklusi keuangan kita masih tertinggal dibandingkan beberapa negara Asia. Ditahun 2019, indeks inklusi keuangan kita 76 persen, lebih rendah dibandang beberapa negara asean lainnya," ujar Jokowi dalam siaran kanal Youtube Sekretariat Presiden, Rabu (11/11).
"Misalnya Singapura 98 persen, Malaysia 85 persen, Thailand 82 persen. Sekali lagi kita masih berada diangka 76 persen," sambungnya.
Selain itu, Jokowi juga menyinggung soal literasi keuangan digital masyarakat Indonesia yang juga masih rendah. Di mana, capaiannya pada tahun 2019 sebesar 35,5 persen. Pun masyarakat yang pernah menggunakan layanan digital baru sebesar 31,26 persen.
"Masih banyak masyarakat yang menggunakan layanan informal," ungkapnya.
Karena itu, mantan Wali Kota Solo ini berharap kepada inovator di industri perusahaan finansial berbasis teknologi (financial technology/fintech) tidak hanya berperan sebagai penyalur pinjaman, dan industri pembayaran daring saja.