Makanan Halal Jadi Pasar Terbesar Ekonomi Syariah, Potensi Nilainya Mencapai Rp 2.380 T
Bagikan

PUBLIKSATU.CO - Indonesia memang merupakan negara dengan populasi umat Islam mayoritas (87,18 persen). Tapi umat Islam terbilang minoritas dalam kapasitas ekonomi.
Kenyataan ini, kata Wakil Ketua Dewan Pembina Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Agung Firman Sampurna, harus direspon umat dengan rasional dan cerdas. Dia mengingatkan bahwa pada dasarnya, Islam adalah agama yang rasional (akal) dan tidak ada agama bagi orang yang tidak rasional.
Atas alasan itu, Agung Firman Sampurna dalam acara Halal Bihalal Pengurus MES di Gedung The Tower, Jakarta, Jumat (4/6), mengajak untuk melihat potensi ekonomi syariah.
Menurutnya, berdasarkan kerangka State of Global Islamic Economy Report 2019/2020, terdapat 6 sektor ekonomi dan bisnis yng digunakan untuk memetakan ekonomi syariah.
Yakni, islamic finance (keuangan dan pembiayaan syariah), halal food (makanan halal), muslim friendly travel (wisata halal), modest fashion (busana muslim), media and recreation (media dan rekreasi), dan pharma and cosmetics (framasi dan kosmetik). Secara global, consumer opportunity ekonomi syariah sangat besar.
Di mana belanja (spending) mencapai 2,2 triliun dolar AS dan dengan perkiraan pertumbuhan 5,2 persen year on year akan mencapai 3,2 triliun dolar AS pada tahun 2024.
“Dari 2,2 T tersebut 4 yang terbesar masing-masing adalah: makanan halal 1,37 triliun dolar AS, busana muslim 283 miliar dolar AS, media dan rekreasi 220 miliar dolar AS dan wisata halal 189 miliar dolar AS,” urainya kepada wartawan, Minggu (6/6).