Berita Terkini
Buton

Sejarah Singkat Hari Jadi Pasarwajo Sebagai Ibu Kota Kabupaten Buton

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Jumat, 11 Juni 2021 21:39 WIB · 2 menit baca
Sejarah Singkat Hari Jadi Pasarwajo Sebagai Ibu Kota Kabupaten Buton

PUBLIKSATU, BUTON - Setiap 10 Juni masyarakat Buton selalu memperingatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kecamatan Pasarwajo menjadi Ibu Kota Kabupaten. Tapat Juni ini, memasuki usianya ke-18.

Berdasarkan sejarahnya, secara yuridis dan formal kelembagaan Buton berstatus sebagai daerah kabupaten berdasarkan undang-undang nomor 29 tahun 1659 tentang pembentukan daerah tingkat 2 di Sulawesi dengan ibu kotanya Baubau

Walaupun pemerintahan swapraja di Indonesia secara resmi berakhir sejak tahun 1959, namun Bupati Buton pertama baru dilantik pada tahun 1960 setelah Sultan falihi kaimuddin sebagai Sultan Buton berakhir mangkat. Ini menunjukkan keistimewaan Kesultanan Buton dibanding Kesultanan lainnya dan daerah swapraja lainnya di Indonesia.

Wilayah kabupaten Buton saat itu meliputi sebelah timur mencakup Pulau Wanci, Kaledupa, Tomia dan Binongko berbatasan dengan Laut Banda sebagian daratan Pulau Buton dan Muna sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Muna sebelah selatan mencakup Pulau Batuatas dan Pulau Kawi-kawia berbatasan dengan laut Flores dan Kabupaten Selayar.

Sedangkan di sebelah barat mencakup Pulau Kabaena dan sebagian daratan Provinsi Sulawesi Tenggara meliputi daerah Poleang, Rumbia perbatasan dengan Kabupaten Kendari, Kabupaten Kolaka dan Teluk Bone.

Sebelum berstatus sebagai Kabupaten, pemerintahannya berbentuk swapraja sebagai peralihan dari daerah kesultanan. Bau-bau juga pernah menjadi ibukota Kabupaten Sulawesi Tenggara yang bupatinya Drs H Laode Manarfa.

Ketika Buton menjadi daerah kesultanan, Karena diperintah oleh 38 orang sultan yang dimulai ketika Murhum bergelar Sultan Kaimuddin Khalifatul Khamis naik tahta tahun 1537. Jabatan Sultan terakhir pada tahun 1960 yang dipegang oleh Laode Muhammad Falihi atau Sultan ke-38, bahkan Buton juga pernah menjadi daerah Kerajaan yang diperintah oleh dua orang ratu dan empat orang raja sedangkan raja terakhir adalah Murhum sekaligus sebagai sultan pertama yang mulai memerintah pada tahun 1537.