Berita Terkini
Muna

7 Tahun Muna Barat, Mau ke Mana

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Sabtu, 9 Oktober 2021 02:07 WIB · 3 menit baca
7 Tahun Muna Barat, Mau ke Mana
Surahman

9 Oktober 2021 merupakan hari bersejarah bagi segenap masyarakat Muna Barat. Bersejarah, karena di hari itu adalah HUT Muna Barat ke 7. Sekalipun masih menyimpan polemik tentang pemilihan tanggal itu sebagai titik tolak perayaan Ultah Muna Barat, namun rasanya bagi saya tak cukup substantif menjadikan ihwal tanggal itu sebagai awal perbedaan masyarakat dalam melihat Muna Barat hari ini dan akan datang.

Rasanya Muna Barat memasuki usia yang hampir 1 dasawarsa seperti baru kemarin, sebagai bagian dari generasi awal pegawai yang ikut memilih pindah ke Muna Barat sejak Januari 2015 saya tentu masih ingat banyak hal diawal awal ketika pertama kali bertugas di Muna Barat. Dari Raha mau ke Kambara kita akan melewati jalur jalan yang sungguh memprihatinkan, jalan yang begitu banyak kubangan. Apa lagi di musim penghujan sulitnya tak terkirakan.

Saya pun masih ingat di jalur itu minimal 2 jam perjalanan ditempuh dengan jarak kurang lebih 45 km. Saat ini kondisinya sudah sangat jauh berbeda, jika kita menggeber kendaraan minimal 60 km/jam, 45 menit sudah sampai di Kambara ibukota Kecamatan Tikep. Belum lagi di jalur lain, misalnya sepanjang ring road dari arah Kecamatan Kusambi Desa Guali menuju Kambara juga demikian, saat ini jalannya hotmix 2 jalur lebar 22 meter. Sampai saat ini Pemda Muna Barat masih merampungkan sisa jalur kedua dan 3 titik jembatan yang tengah dalam proses pembangunan.

Soal infrastruktur jalan dan jembatan rasa rasanya kisah pembangunannya sulit untuk dibantah. Apa lagi merujuk pada capaian 786 km jalan yang telah dibangun oleh Bupati defenitif pertama La Ode M. Rajiun Tumada. Menurut banyak orang Bupati defenitif pertama ini daya jangkau dan penetrasi pembangunannya memang spektakuler. Khususnya di sektor infrastruktur jalan dan jembatan. Hampir setiap ruas jalan di Muna Barat tak ada yang tak tersentuh pembangunan.

Pada tahun 2020 yang lalu dia mengundurkan diri, namun peninggalannya amat berharga, khususnya bagi rakyat kebanyakan yang merasakan langsung manfaat pembangunannya. Sekalipun demikian, gagasan dan konsepsi pembangunannya masih tetap dilanjutkan dalam konteks Rahmatnya Muna Barat. Sebuah dokumen politik tentang arah pembangunan Muna Barat yang yang termaktub di dalam RPJMD Muna Barat 2017-2022.

Saat ini Muna Barat berumur 7 tahun, tentu cerita tentang jalan dan jembatan tak akan cukup menjawab kebutuhan masyarakat. Apa lagi spektrum kebutuhan masyarakat teramat luas. Pemerintah tak cukup bercerita tentang berapa jalan dan jembatan yang dibangun, atau berapa fasilitas pemerintah yang dibangun, masyarakat membutuhkan lebih dari sekedar itu.

Bandar Udara Sugi Manuru atau Pelabuhan Tondasi yang saat ini sudah beroperasi tak akan memiliki nilai tambah bagi daerah jika tingkat keterisian pesawat atau kapal feri masih sangat rendah. Jika rendah, secara otomatis tidak akan menguntungkan bagi daerah karena daerah masih akan menggelontorkan dana untuk subsidi mengisi kursi kosong. Kondisi demikian, hendaknya menjadi perhatian stakeholders terkait bahwa perlu ada kebijakan khusus untuk meningkatkan kunjungan di Muna Barat agar fasilitas perhubungan tersebut dapat beroperasi secara optimal. Ini artinya semua bekerja dari hulu ke hilir.