Pesisir Baubau Porak-poranda, BMKG: Anginnya Langka Terjadi

PUBLIKSATU, BAUBAU - Ombak besar memporak-porandakan sebagian wilayah pesisir Kota Baubau, Senin (21/2). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ada pergerakan angin yang langka terjadi pada hari itu.
"Angin (Senin) kemarin itu hampir sepanjang hari. Dari data kami terpantau kecepatan angin maksimum itu ada sampai 31 knot. Itu jarang terjadi di Kota Baubau," ungkap Prakirawan Stasiun Meteorologi Betoambari BMKG, Yamin Saleh Saidu, dikonfirmasi di kantornya, Selasa (22/2).
Menurut dia, kecepatan angin maksimum rata-rata 20 knot ke atas sudah lazim terjadi. Namun, biasanya berdurasi singkat, hanya sesaat langsung turun atau berhenti. "Tapi, kemarin itu di atas 20 knot terus-menerus. Jadi, itu yang memicu terjadinya gelombang tinggi hingga ke pesisir," ujarnya.
Kendati begitu, kata dia, secara umum cuaca ekstrim yang melanda Baubau pada hari itu merupakan fenomena alam biasa. Hal itu disebabkan sirkulasi angin di daerah utara Australia yang mempengaruhi cuaca di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara khususnya Baubau.
"Itu fenomena biasa sering terjadi. Kalau kita lihat tahun 2021 kemarin itu ada kapal (feri) penyebrangan Wamengkoli-Baubau terombang-ambing pas bulan Februari seperti ini juga. Jadi, hujan lebat disertai angin kencang ini biasa terjadi di musim barat," tuturnya.
Dia menambahkan, berdasarkan prakiraan cuaca, pihaknya memprediksi hujan lebat disertai angin kencang masih terjadi di Kota Baubau selama tiga hari ke depan. Namun, tinggi gelombang laut di perairan Baubau cenderung berkurang.
"Cuma di (perairan) bagian selatan seperti Wanci dan Batuatas itu terpantau masih terjadi gelombang tinggi antara 1 sampai 2,5 meter. Khusus Kota Baubau kami sarankan hindari pohon-pohon tumbang," pungkas Yamin.(exa)