Bahasa Wolio Terancam Punah

PUBLIKSATU, BAUBAU - Penggunaan bahasa daerah Wolio di Kota Baubau kini terancam punah. Bahasa pemersatu masyarakat di era Kesultanan Buton itu semakin ditinggalkan dalam komunikasi rutin.
Ketua Komisi III DPRD Kota Baubau, Muhammad Ahadyat Zamani mengungkapkan, penelitian dari Kamaluddin dan kawan-kawan menunjukkan bahwa pola pertahanan bahasa Wolio pada masyarakat Kota Baubau masuk kategori tidak dipertahankan. Kendati bahasa Wolio masih dituturkan oleh para orang tua dan anak-anak, tapi dalam jumlah sedikit.
"Hasil penelitian itu sejalan dengan pemetaan Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Berdasarkan pemetaan tersebut bahasa Wolio merupakan salah satu dari 16 bahasa daerah di Indonesia yang terancam punah, masuk kategori rentan stabil tapi terancam punah," kata Ahadyat saat pidato pengantar Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Wolio, Senin (7/3).
Bahasa Wolio, kata dia, pada zaman Kesultanan Buton memiliki seperti bahasa Indonesia masa kini bahasa Indonesia sekarang. Penggunaannya menjadi bahasa pengantar dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun komunikasi diantara wilayah-wilayah Kesultanan Buton yang majemuk dengan berbagai bahasa ibu.
"Selain sebagai pemersatu etnik masyarakat Kesultanan Buton, bahasa Wolio juga memiliki keistimewaan sebagai salah satu bahasa daerah di Indonesia yang dilengkapi dengan tradisi tulis, aksara yang melahirkan karya-karya ilmiah dan sastra baik lisan maupun tertulis. Ini menjadi salah satu bukti yang menunjukkan tingginya peradaban Buton sejak masa kerajaan," ujarnya.
Menurut dia, ada beberapa faktor yang menyebabkan bahasa, sastra, dan aksara Wolio terancam punah. Kalah bersaing dengan penggunaan bahasa Indonesia dan huruf latin dalam komunikasi sehari-hari serta bahasa asing untuk kepentingan pendidikan dan ekonomi tertentu.
Penggunaan bahasa Wolio semakin terbatas dan semakin jarang dituturkan masyarakat juga lantaran posisi strategis Kota Baubau sebagai tempat pertemuan arus barang dan manusia, penghubung wilayah Indonesia bagian timur serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kondisi ini mengancam keberlangsungan bahasa, sastra, dan aksara Wolio.