Berita Terkini
Baubau

Rawan Tsunami, Pemerintah Bakal Merelokasi Ratusan Rumah di Buton

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Selasa, 29 Maret 2022 02:55 WIB · 2 menit baca
Rawan Tsunami, Pemerintah Bakal Merelokasi Ratusan Rumah di Buton
Bupati Buton, La Bakry

PUBLIKSATU, BAUBAU - Pemerintah akan merelokasi penduduk yang mendiami kurang lebih 300 unit rumah di sekitar pesisir Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton. Sebab, lokasi pemukiman tersebut masuk kategori rawan bencana tsunami.

Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Ali Mazi mengatakan, penduduk di 300 rumah tersebut bakal direlokasi di daerah ketinggian. Rencana itu sudah berjalan, infrastrukturnya mulai dikerjakan dalam waktu dekat.

"300 rumah itu tepat di mulut laut Banda. Saya kira penduduk di wilayah itu habis luluh lantak kalau terjadi tsunami. Sebelum terjadi bencana saya kira perlu kita pindahkan," kata Ali Mazi dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Penataan Sistem Dasar Penanggulangan Bencana se-Sultra, di Kota Baubau, Senin (28/03/2022).

Selain itu, kata dia, kerawanan yang sama juga terjadi di Kabupaten Wakatobi. Bahkan, daerah pariwisata yang mendunia itu punya sedikit patahan dan berada di mulut laut Banda.

"Di sana namanya ujung neraka. Kalau tidak diatasi, di sana ada sedikit patahan. Kalau terjadi patahan, maka sekitar lima juta ton (air laut) akan menjadi tsunami. Itu juga perlu dilakukan penanggulangan," ujarnya.

Sementara itu, Bupati Buton, La Bakry mengatakan, rencana relokasi penduduk itu merupakan kolaborasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buton dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra. Pihaknya merasa biaya tindakan pencegahan relatif lebih murah dibandingkan dengan penanganan dampak bencana.

"Sesuai arahan gubernur untuk pertama ini yang akan direlokasi di Pasarwajo dan sekitarnya. Saya berharap kita bisa lakukan pencegahan bencana secara bertahap sesuai kemampuan. Kita juga harapkan dukungan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) terhadap rencana itu dalam rangka antisipasi ke depan, bukan hanya satu atau 2 tahun melainkan 20 sampai 40 tahun akan datang," ujar La Bakry. (*)