Ketua Banggar Ungkap Estimasi Desain APBN 2023

PUBLIKSATU – Ketua Badan Anggaran DPR RI, Said Abdullah mengatakan, siatuasi pandemi Covid-19 dan perang antara Ukraina versus Rusia memberikan dampak untung dan rugi. Meskipun terjadi inflasi yang tinggi dan menjalar di banyak kawasan.
“Efek kenaikan harga komoditas global di Kuartal IV tahun 2021 berdampak penerimaan perpajakan kita melampaui target, setelah dua belas tahun berturut turut kita mengalami short fall pajak,” ujar Said Abdullah dikutip dari JawaPos.com, Selasa (2/8).
Bahkan, kata Said, naiknya harga komoditas juga menjaga surplus perdagangan sejak Mei 2020. Namun di lain hal, pemerintah harus memperbesar alokasi belanja subsidi dan kompensasi energi yakni Bahan Bakar Minyak, LPG, dan listrik.
“Membengkaknya alokasi subsidi dan kompensasi energi ini dikarenakan kita telah lama menjadi importir minyak bumi,” katanya.
Menurut politikus PDIP itu, biaya tambahan juga kita butuhkan untuk menjaga daya beli, khususnya rumah tangga miskin terhadap kenaikan inflasi yang mulai kita rasakan disejumlah bahan pangan impor.
“Karena itu, bila KTT G20 bisa menganulir berbagai pelarangan produk pangan dan energi Rusia ke pasar global, langkah itu akan membuka pasokan logistik global pulih secara perlahan,” ujarnya.
Apalagi, lanjutnya, pada tahun depan, Indonesia perlu mewaspadai kesiapan fiskal mengingat tahun depan harus kembali pada defisit pembiayaan APBN dibawah tiga persen PDB.