Sri Mulyani: Potensi Resesi Global Akan Pengaruhi Harga Minyak di 2023
Bagikan

Publiksatu – Potensi resesi global akan memengaruhi harga minyak dan komoditas lainnya pada 2023. Hal ini diungkapkan Menteri Keuangan Sri Mulyani.
“Amerika dan Eropa jelas akan menghadapi potensi resesi yang sangat tinggi, mengapa? Karena inflasi mereka sangat tinggi, 40 tahun tertinggi dan saat ini direspons dengan kenaikan suku bunga acuan dan pengetatan likuiditas,” kata Sri Mulyani dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia yang dipantau secara daring di Jakarta, Rabu seperti dikutip dari jawapos.com.
Pada awalnya, bank-bank sentral di Amerika dan Eropa masih menganggap inflasi tersebut bersifat temporer karena disrupsi akibat pandemi Covid-19. Namun, saat perang Rusia dan Ukraina mulai muncul, minyak bahkan kini dijadikan alat untuk salah satu instrumen perang.
Maka dari itu, Sri Mulyani melihat jika berbagai negara maju masuk ke dalam jurang resesi, maka permintaan terhadap minyak menjadi turun dan tekanan kenaikan harga minyak diharapkan ikut menurun, sehingga tak lagi mencapai di atas 100 dolar AS per barel.
Saat ini, harga minyak mulai menurun menjadi dalam kisaran 94 dolar AS per barel, setelah sempat melambung di level 126 dolar AS per barel.
Selain potensi resesi, Sri Mulyani menyebutkan faktor lainnya yang akan memengaruhi harga minyak dan komoditas dunia adalah seberapa lama perang Rusia dan Ukraina berlangsung.
“Selama terjadi perang, berarti akan terus ada disrupsi suplai karena Rusia itu diembargo. Kemarin kita juga mendengar bahwa Amerika Serikat akan mencoba membuat price gap untuk minyak Rusia yang sekarang sudah diadopsi negara-negara G7,” tuturnya.