Nasional

Gangguan Berkemih Bisa Disebabkan Batu Ginjal, Infeksi, hingga Kanker

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Senin, 12 September 2022 19:12 WIB · 2 menit baca
Bagikan
Gangguan Berkemih Bisa Disebabkan Batu Ginjal, Infeksi, hingga Kanker
JANGAN DITAHAN: Waspadai gangguan berkemih. Jika muncul rasa sakit, sulit pipis, atau kending makin sering, apalagi kencing berdarah, segera periksakan diri ke dokter. (Foto ilustrasi diperagakan model Dewi Anggra. Dite Surendra/Jawa Pos)

GANGGUAN kencing memiliki beberapa bentuk gejala. Mulai sulit kencing, terlalu sering kencing, hingga hematuria atau kencing berdarah. Penyebab setiap gejala tersebut perlu ditilik lebih lanjut. Apakah infeksi? Atau, ada batu ginjal?

BATU di saluran kemih termasuk salah satu penyakit yang sering ditemui. Tak terbatas pada laki-laki atau perempuan. Keduanya memiliki risiko yang dipengaruhi gaya hidup dan metabolisme tubuh. Antara lain, kurang minum atau sering menahan buang air kecil. Saluran kemih terdiri atas ginjal, saluran ureter atas dan bawah, kandung kencing, dan uretra atau saluran pembuangan. ”Pembentukan batu biasanya terjadi di ginjal. Namun, letaknya saat ditemukan bisa di ginjal hingga uretra,” ucap dr Firdianto SpU.

Gejalanya bisa beragam. Bisa jadi, pasien tidak mengalami gejala apa pun. Namun, ada pula pasien yang mengalami mual dan muntah, nyeri pinggang, hingga kencing berdarah. ”Nah, ini yang jadi tugas kita, mengenali ini batu infeksi atau keganasan kanker,” sambung dokter spesialis urologi Mayapada Hospital Kuningan, Jakarta, itu.

Pemeriksaan dilakukan dengan tes urine dan CT urologi. Jika ditemukan batu, hasil CT akan menunjukkan letak dan ukuran batu. Ukuran batu di bawah 5 mm dan terletak di uretra biasanya cukup diobservasi. Batu bisa keluar dengan sendirinya lewat saluran kencing. ”Selama tidak terlihat gangguan fungsi ginjal, tidak ada sumbatan, tidak ada infeksi,” imbuhnya.

Observasi dilakukan selama 1–1,5 bulan. Lokasi batu juga menentukan pemberian obat. Apakah cukup obat nyeri atau perlu diberi obat prostat. ”Kalau di saluran, biasanya diberikan obat prostat untuk memudahkan proses pengeluaran batu,” sambungnya.

Semakin besar ukuran batu, penanganan yang diberikan lebih invasif. Di antaranya, ESWL (extracorporeal shock wave lithotripsy) atau penembakan dengan sinar dari luar tubuh. Kemudian, URS & RIRS (ureteroscopy and retrograde intrarenal surgery), yaitu penembakan dengan laser dan pengambilan batu dengan alat kecil.

Selanjutnya, PCNL (percytaneous nephrolithotomy) atau mirip dengan pengeboran yang menembus kulit sampai ke ginjal untuk pengambilan batu. Ada pula cystolithostripsy, yaitu tindakan pemecahan batu di bawah 3 cm dan dikeluarkan dengan kateter. Terakhir, ada laparoskopi yang dilakukan dengan operasi lewat tiga lubang kecil untuk membuka ureter, kemudian mengeluarkan batu secara utuh.

Bagikan