Penelitian Ungkap Dampak Suntik Botulinum Toxin Untuk Atasi Kerutan
Bagikan

Publiksatu – Mulai usia 30-an, jumlah kandungan kolagen di dalam tubuh semakin berkurang. Masalah kerutan pun sudah mulai muncul. Berbagai perawatan kecantikan menawarkan berbagai cara untuk memperlambat penuaan dini, salah satunya dengan kandungan Botulinum Toxin.
Apa itu?
Panel multidisiplin internasional, Aesthetic Council for Ethical use of Neurotoxin Delivery (ASCEND), meluncurkan publikasi konsensus di IMCAS Asia 2022, dengan judul penelitian ‘Emerging trends in botulinum neurotoxin A resistance: An international multidisciplinary review and consensus‘.
Namun ternyata, penggunaan suntik anti-kerutan Botulinum Toxin A (BoNT-A) dalam terapi estetika secara berkepanjangan ternyata berdampak negatif bagi kesehatan tubuh. Efek yang paling nyata adalah kondisi imunoresistensi atau NAb-induced secondary nonresponse (SNR).
Dampaknya adalah pasien merasa seolah suntikan itu kurang manjur. Misalnya saat diinjeksikan tidak lagi merespons secara efektif, efeknya tidak sebaik injeksi pertama. Ini membahayakan, karena jika suatu saat Anda membutuhkan terapi injeksi BoNT-A untuk kondisi penyakit serius, terapi jadi tidak efektif lagi.
“Terapi BoNT-A sering kali dilakukan seumur hidup, kami setuju bahwa menggunakan formulasi BoNT-A yang sangat murni dengan risiko imunogenik terendah untuk meminimalkan risiko pembentukan NAb akan menjadi keputusan klinis yang bijaksana,” kata Plastic Surgeon, direktur The Specialists: Lasers, Aesthetic & Plastic Surgery, Hong Kong dan salah satu penulis dr. Wilson Ho, dalam konferensi pers, Kamis (29/9).
Sejak 1999, injeksi Botulinum Toxin A atau dikenal dengan BoNT-A telah menjadi prosedur estetika yang paling banyak dilakukan di dunia. Selain itu ini juga merupakan pilihan perawatan lini pertama untuk berbagai kondisi medis seperti distonia serviks dan spastisitas tungkai.