Tragedi Kanjuruhan Menjadi Momen Perdamaian, Sudahi Rivalitas Kelewat Batas
Bagikan

Publiksatu – Di pintu 13 Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sunari bertakziah. Bonek yang mengenakan atribut lengkap Persebaya Surabaya itu memanjatkan doa untuk para korban tragedi yang merenggut 131 nyawa tersebut.
Tiba-tiba M. Ferry Pribadi, seorang Aremania yang mengenakan jersey Arema FC, dengan nada bersahabat menyapanya, ’’Salam Satu Nyali!” Tanpa berpikir lama, Sunari langsung menjawab salam khas pendukung Persebaya itu dengan, ’’Wani!”
Sunari tidak mengenal Ferry. Tapi, keduanya langsung berpelukan.
Sama-sama meneteskan air mata. ’’Sing kuat ya, Sam (Mas dalam bahasa walikan khas Malangan, Red). Aku ikut berduka,’’ tuturnya seperti dikutip dari jawapos.com.
Keduanya pun lantas berfoto bersama. Beberapa Aremania yang ada di sekitar lokasi juga ikut nimbrung berfoto. ’’Sudah saatnya damai. Sudahi rivalitas kelewat batas yang memakan korban,’’ ujar Ferry.
Momen persahabatan nan mengharukan seperti itu menyeruak di mana-mana sejak tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada Sabtu (1/10) tengah malam hingga Minggu (2/10) dini hari lalu itu. Suporter di penjuru tanah air, baik di basis-basis klub besar maupun di kota-kota kecil yang tak punya tradisi sepak bola kuat, mengirimkan doa dan dukungan untuk para korban dan Aremania.
Semua turut berduka, semua juga sepakat untuk turut mengawal penyelesaian kasus itu sampai tuntas. Di hadapan tragedi memilukan, semua permusuhan terlalu memalukan untuk diteruskan. Semua merasa inilah momen yang tepat bagi seluruh suporter Indonesia untuk bergandengan tangan.