Berita Terkini
Ragam

Cerdas Berjamaah Dalam Pemilu

Oleh Admin Publiksatu · Selasa, 28 Februari 2023 20:45 WIB · 2 menit baca
Cerdas Berjamaah Dalam Pemilu

Oleh: Yulisnawati Abbas (Pegiat Komunitas Kepton)

RAMAI berita tentang Pemilu yang menyeruak dan mengisi ruang publik akhir-akhir ini ternyata tidak membuat semua warga bangsa peduli dan ikut melibatkan diri dalam arus besar yang jadi diskursus nasional tersebut.

Beberapa kelompok masyarakat yang apatis itu umumnya adalah mereka yang tergabung dalam komunitas-komunitas yang kegiatan sehari-harinya cukup berjarak dengan politik praktis sehingga kurang peduli terhadap dinamika politik yang berkembang. Sebagian dari mereka, sikap apatisnya muncul dari kekecewaan terhadap praktek-praktek politik para aktor yang dipandang bertentangan dengan nilai-nilai kepatutan sehingga melahirkan persepsi bahwa politik itu kotor dan sebagainya.

Masalahnya karena setiap individu warga bangsa adalah subyek politik yang memiliki tanggung jawab untuk terlibat dalam menentukan arah dan masa depan bangsa. Dalam pemilu misalnya, Makin tinggi tingkat partisipasi masyarakat, makin berkualitas dan demokratis pemilu dimaksud. Lantas bagaimana membuat agar segenap warga masyarakat untuk terlibat dalam kontes pemilu 2024 yang akan datang?

Sebagai orang yang sehari-hari berkecimpung di dunia komunitas kreatif yang banyak berinteraksi dengan warga masyarakat khususnya kaum muda, ternyata tidak sedikit kaum muda di kota Baubau dan Buton Tengah yang bersikap apatis terhadap politik, terutama mereka yang semasa kuliah tidak terlibat dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan internal dan eksternal kampus.

Berbeda dengan mereka yang semasa kuliahnya aktif di organisasi internal maupun eksternal yang cukup antusias terhadap dinamika politik yang berkembang. Anggapan bahwa politik itu kotor pada sebagian kalangan ternyata sudah mendarah daging. Hal inilah yang mengakibatkan kepedulian dan juga pemikiran kritis terhadap politik menjadi jauh.

Jumlah mereka yang berfikir seperti ini juga bukan hanya 1-2 orang, tapi banyak. Mereka sebenarnya hanya mengekpresikan apa yang mereka rasakan dari kehidupan mereka sehari-hari, apa yang mereka lihat atau pengalaman mereka melihat pemimpinnya. Respon negatif ini tidak mengenal usia tua atau muda.