Kasambu-sambu, Tradisi Pengingat Mudik bagi Perantau Kolese
Bagikan

Masyarakat Kelurahan Kolese Kecamatan Lealea Kota Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara punya pesta adat bernama Kasambu-sambu. Tradisi tua ini menjadi sarana pengingat bagi para perantau agar tak lupa mudik atau pulang ke kampung halaman.
Laporan: Texandi
TANAH lapang kampung itu tampak ramai di Sabtu (29/4) siang. Orang-orang sedang berkumpul di luar dan dalam tenda acara seukuran seperempat lapangan sepakbola Kelurahan Kolese tersebut. Hari itu adalah H+7 Idulfitri 1444 Hijriah bertepatan dengan tahun 2023 Masehi.
Panitia kelihatan sibuk mengatur tamu undangan mengikuti teknis acara. Di ruangan nonpermanen tersebut juga sudah berjejer rapi wanita-wanita anggun yang belum lama menginjak usia dewasa. Masing-masing dari mereka menjaga satu talam berisi penganan tradisional.
Keramaian itu rupanya kegiatan cukup sakral bagi masyarakat Kolese. Penduduk setempat sedang menyelenggarakan ritual Kasambu-sambu ke-XXIV. Hajatan itu turut dihadiri pejabat sohor daerah seperti La Ode Ahmad Monianse (Wali Kota), Zahari (Ketua DPRD), dan Sitti Munawar (Pj Sekda).
Deskripsi Kasambu-sambu sendiri diuraikan di tengah acara oleh panitia pelaksana. Secara etimologi, Kasambu-sambu berasal dari bahasa etnis setempat dengan kata dasar Sambu yang berarti suap dan Kasambu berarti aktivitas menyuapi seseorang.
Kasambu-Sambu merupakan tradisi tua masyarakat Kolese yang diwariskan secara turun temurun oleh para leluhur. Ritual adat itu baru populer La Puli (Maa Zanibu) menjabat sebagai kepala kampung pada 1950-1960. Dilanjutkan oleh kepala kampung lainnya La Ode Basiri, La Ode Nusuri, La Goa, La Ilimu, dan La Mane. Namun kebiasaan itu sempat terhenti lama. Nanti tahun 1997 dilanjutkan kembali saat Kolese menjadi sebuah desa di bawah kepemimpinan Nasihun.