Mepe Kasur, Tradisi Suku Osing Jelang Iduladha

PUBLIKSATU - Suku Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi memiliki tradisi unik setiap menjelang hari raya Iduladha. Namanya Mepe Kasur.
Dikutip dari JawaPos.com, tradisi yang dilakukan turun temurun tersebut dikenal dengan nama Mepe Kasur, yang dalam bahasa Indonesia bermakna menjemur kasur. Tradisi itu digelar setiap 1 Dzulhijah dan merupakan bagian dari ritual bersih desa.
Pada ritual Mepe Kasur, warga desa akan menjemur kasur secara bersamaan di depan rumah sejak pagi hingga sore hari. Dilanjutkan dengan ritual Tumpeng Sewu pada malam harinya.
Seperti yang terlihat Kamis (22/6) pagi, di Lingkungan Sukosari, Desa Kemiren. Terlihat semua warga menjemur kasur di sepanjang halaman rumah.Tak sekadar menjemur, mereka juga tampak membaca doa dan sesekali memercikkan air bunga ke arah kasur dengan harapan bisa terhindar dari segala penyakit dan marabahaya.
”Bagi kami (warga Osing) kasur merupakan benda yang sangat dekat dengan manusia sehingga wajib dibersihkan agar kotoran yang ada di kasur hilang,” kata Ketua Adat Kemiren Suhaimi.
Uniknya, kasur warga Kemiren itu memiliki warna yang seragam, kombinasi merah dan hitam (abang-cemeng). Warna tersebut memiliki filosofi yang dalam. Warna hitam merupakan simbol tolak bala. Sedangkan merah melambangkan keabadian rumah tangga.
”Setiap keluarga di Kemiren pasti punya. Karena setiap pengantin baru pasti disiapkan kasur merah-hitam dengan harapan rumah tangganya bisa langgeng,” urai Suhaimi.