BMKG Ungkap Potensi Bencana Hidrometeorologi
Bagikan

PUBLIKSATU, JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak dampak dari El Nino terjadi pada Agustus-September 2023.
El Nino sendiri merupakan fenomena alam di mana Suhu Muka Laut (SML) memanas di atas kondisi normal. El Nino meningkatkan potensi awan di Samudera Pasifik tengah dan mengurangi curah hujan di wilayah Indonesia.
"Tadi kami bersama bapak Presiden Jokowi dan bapak Wakil Presiden Ma'ruf Amin, Bapak Menko, dan beberapa menteri membahas tentang antisipasi dan kesiapan dalam menghadapi ancaman El Nino yang diprediksi puncaknya akan terjadi di bulan Agustus-September,” ujar Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, usai mengikuti rapat terbatas di Istana Merdeka, dikutip dari JawaPos.com pada Rabu (19/7).
Kata dia, puncak El Nino ini akan berdampak pada ketersediaan air atau kekeringan, yang nantinya juga mempengaruhi sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional. “Tadi sudah dikoordinasikan antisipasinya, sudah dimulai sejak bulan Februari sampai April itu sudah berjalan, perlu diperkuat,” katanya.
Selain itu, sebagian wilayah di Indonesia kini telah memasuki musim kemarau. Namun, kondisi tersebut tidak menutup kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir.
Penyebabnya, jelas dia, cuaca di Indonesia akan dipengaruhi oleh kondisi dua samudera yang terdampak El Nino. Ditambah lagi, sebagian wilayah Indonesia topografinya adalah daerah pegunungan atau perbukitan.
“Masih tetap ada kemungkinan satu wilayah mengalami kekeringan, tetangganya mengalami banjir atau bencana hidrometeorologi. Artinya, bukan berarti seluruhnya serempak kering, ada di sela-sela itu yang juga mengalami bencana hidrometeorologi basah,” tuturnya.