Bawaslu Ingatkan Waspada Puncak Hoaks
Bagikan

JAKARTA – Suhu politik menyambut Pemilu 2024, tampaknya, makin naik. Terlebih menjelang pendaftaran pasangan capres-cawapres pada Oktober mendatang. Seiring itu,
Bawaslu memperkirakan puncak penyebaran hoaks, terutama melalui media sosial (medsos), terjadi pada Februari 2024. Anggota Bawaslu Herwyn J.H. Malonda mengungkapkan, mengacu pada pengalaman Pemilu 2019, intensitas hoaks meningkat pesat pada April. Pada bulan tersebut, itulah kesempatan terakhir sebelum pemungutan suara yang ketika itu diadakan April.
Baca Juga: Hasil Konsolidasi PBB di Surabaya, Yusril Ihza Mahendra Diajukan Jadi Bacawapres untuk Prabowo Subianto
Nah, pada Pemilu 2024, pihaknya memprediksi situasi serupa terjadi. Intensitas akan mulai meningkat pada November 2023 dan mencapai puncaknya di Februari. ”Ini yang memang kita perlu perhatikan bersama,” ujar Herwyn kemarin (3/9).
Pada April 2019, Bawaslu mencatat, setidaknya ada 501 isu hoaks yang menyebar. Pada 2024, intensitasnya bisa saja meningkat seiring dengan masifnya penetrasi medsos. Karena itu, tren tersebut perlu diantisipasi. Sebab, dampaknya adalah polarisasi di tengah masyarakat menguat, muncul ketidakpercayaan kepada penyelenggara pemilu, hingga hasil pemilu yang direspons dengan tindak kekerasan.
Herwyn menegaskan, Bawaslu telah melakukan persiapan. Diawali pencegahan, media monitoring, sekaligus memublikasikan informasi dan edukasi kepemiluan secara masif. Dengan begitu, diharapkan maraknya informasi hoaks dapat diredam.
Baca Juga: Politikus PKB Reyna Usman Diperiksa KPK Terkait Dugaan Korupsi Proteksi TKI di Kemnaker
Pihaknya juga berkolaborasi dengan stakeholder terkait. Di antaranya, Kemenkominfo, platform medsos, dan kreator konten. Serta membentuk gugus tugas pengawasan kampanye bersama KPI, KPU, dan Dewan Pers. (far/idr/c14/hud)