Hadapi Pemilu, Kemenag Keluarkan Pedoman Ceramah Keagamaan

PUBLIKSATU, JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) tidak kalah sibuk dalam menyambut tahun politik 2024. Terbaru kementerian yang dipimpin Yaqut Cholil Qoumas itu mengeluarkan surat edaran tentang pedoman ceramah keagamaan. Salah satu poinnya, materi ceramah keagamaan tidak boleh bermuatan kampanye politik praktis.
Di dalam edaran tertanggal 27 September 2023 itu, ada tujuh materi ceramah keagamaan. Selain tidak boleh bermuatan kampanye politik praktis, materi ceramah tidak memprovokasi masyarakat untuk perilaku tertentu. Seperi tindakan intoleransi, diskriminasi, intimidatif, anarkis, dan destruktif.
Kemudian materi ceramah tidak menghina, menodai, melecehkan pandangan, keyakinan dan praktik ibadah umat beragama. Tujuannya supaya tidak memicu rasa kebencian di tengah masyarakat. Materi ceramah harus mendidik, mencerahkan, serta mengajak umat beragama untuk iman dan takwanya.
Baca Juga: Diharapkan Pertemuan Puan dengan Kaesang, Dukungan ke Ganjar Makin Menguat
Menag Yaqut dalam surat edaran itu juga menyampai kompetensi seorang penceramah. Diantaranya adalah memiliki pengetahuan dan pemahaman keagamaan yang moderat. Memiliki sikap toleransi dan menjunjung tinggi harkat serta martabat kemanusiaan. Berikutnya penceramah juga memiliki sikap santun, keteladanan, dan wawasan kebangsaan.
Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla merespon aturan tersebut. Dia mengatakan orang ceramah tidak dilarang. "Yang tidak boleh itu berkampanye di masjid. Kalau berceramah boleh," katanya usai menghadiri Konferensi Agama dan Perubahan Iklim yang digelar Majelis Hukama Muslimin di Jakarta kemarin (4/10).
Pria yang akrab disapa JK itu mengatakan bicara apa saja silahkan, asal tidak melanggar aturan. Dia juga mengatakan di DMI sudah ada rambu-rambu soal masjid atau takmir menghadap tahun politik. Pada intinya dia berpesan kepada siapapun, tidak boleh berkampanye di masjid atau tempat ibadah lainnya.
Baca Juga: KIM Masih Terus Menggodok Nama Bacawapres Prabowo Subianto
Di depan para tokoh agama-agama dalam dan luar itu, JK banyak menyinggung soal peran agama untuk menjaga lingkungan. Khususnya mencegah dampak perubahan iklim. Dia mengajak untuk bersama-sama mengambil langkah kongkrit mengatasi krisis pangan. Dia mengatakan urusan pangan, sifatnya universal. Dirasakan oleh pemeluk semua agama.
JK sendiri merasakan kondisi iklim saat ini berubah drastis. Dia mencontohkan di Jakarta pada siang hari, saat ini bisa sampai 36 derajat celcius. "Jarang terjadi dalam pengalaman di Indonesia. Dulu panas seperti ini di padang pasir," katanya.
Kemudian banjir biasanya terjadi di daerah tropis. Tetapi baru-baru ini banjir jiga menerjang Eropa dan Amerika sebagai negara sub tropis. Begitupun dengan kebakaran hutan selama ini di negara-negara Khatulistiwa seperti Indonesia. Namun belakangan juga terjadi di Kanada dan Eropa.
Menurut dia anomali itu adalah efek dari perubahan iklim. "Akibatnya kehidupan terpengaruh. Makanan berkurang. Produksi beras di ASEAN berkurang," katanya. Sekali lagi JK menegaskan peran tokoh agama penting untuk mengatasi krisis pangan serta efek perubahan iklim lainnya.