Kemenangan di Jawa Timur: Dukungan NU, Jokowi, dan Sepak Bola
Bagikan

PUBLIKSATU, JAKARTA-Jawa Timur dianggap menjadi battleground (wilayah pertempuran) yang menentukan kemenangan pada Pilpres 2024. Sejak pemilihan langsung 2004, pemenang Pilpres adalah calon yang menang di Jawa Timur.
Dengan total suara yang mencapai 31 juta pemilih, Jatim menjadi kantong suara terbesar setelah Jabar yang memiliki total 35 juta pemilih.
Berbeda dengan Jatim, pemilih di Jabar cenderung bulat dalam menentukan pilihannya. Sejak Pemilu 1955, Jabar selalu menjadi basis kekuatan kelompok hijau (Islam dan militer). Jateng juga memiliki basis pemilih solid ke kelompok merah.
"Sebaliknya, arah dukungan di Jatim jauh lebih dinamis. Provinsi ini adalah swing state. Jatim menjadi provinsi sulit ditebak. Hal ini karena komposisi wilayah Jatim yang memiliki karakter ideologi berbeda-beda. Setidaknya ada tiga klaster ideologi utama di sana, yakni Mataraman, Tapal Kuda, dan Arek," ujar Direktur Eksekutif Suropati Syndicate, Muh. Shujahri, melalui keterangannya, Selasa (10/10).
Baca Juga: Pekan Depan, Hasil Uji Materiil Batas Usia Minimum Capres-Cawapres Diputusakan
Dituturkan Shujahri, Mataraman menjadi wilayah yang memiliki irisan dengan Jawa Tengah yang terbentang dari Tulungagung hingga Banyuwangi. Basis pemilih di wilayah ini adalah kalangan nasionalis dan abangan.
Sedangkan wilayah Tapal Kuda adalah basis kekuatan santri (NU tradisional) yang terbentang dari Probolinggo hingga Madura. Sementara Arek merupakan basis perkotaan yang tersebar antara Surabaya hingga Malang. Wilayah Arek didominasi oleh pemilih rasional.
Menurut Shujahri, komposisi ideologi pemilih Mataraman, Arek, dan Tapal Kuda inilah yang membuat politik Jatim sulit ditebak. Sebagai contoh, saat Pemilu 2004 di mana PDIP kuat di basis Mataraman dan Arek menggandeng Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi yang secara teori dekat dengan santri, malah keok oleh Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla.
"Pun halnya Khofifah yang dua kali kalah dari Soekarwo di Pilkada Jatim. Basis dukungan Karwo saat itu adalah dari Partai Demokrat yang punya basis kekuatannya di wilayah Mataraman," jelasnya.
Ditambahkan Shujahri, apa yang terjadi di Jatim ini memberi banyak pelajaran bahwa fragmentasi ideologi Arek, Mataraman, dan Tapal Kuda begitu rumit untuk ditaklukkan. Fakta sejarah juga menunjukkan tak pernah ada calon yang bisa merepresentasikan klaster ideologi tertentu, terlebih klaster Tapal Kuda (NU).
Sebab, kata dia, klaster ini ditentukan oleh bagaimana calon bisa mendapatkan dukungan kiai khos, pesantren besar, maupun simpati dari santri. Di Tapal Kuda ada ratusan kiai khos dan pesantren besar. Jumlah santrinya pun bisa mencapai ratusan ribu.
Baca Juga: Ditanya Soal Gibran Jadi Cawapres Prabowo, Airlangga Katakan Menunggu Keputusan MK
"Walhasil jadi pekerjaan amat besar bagi calon untuk bisa merebut suara mutlak dari kalangan santri," kata Shujahri.
Layaknya Pilpres 2014, lanjut Shujahri, hampir bisa diprediksi dukungan kiai khos akan terbelah ke beberapa capres/cawapres yang punya irisan dengan NU. Jadi bisa dipastikan pula suaranya akan terbagi-bagi. Strategi Anies menggaet Muhaimin Iskandar sama sekali bukan jaminan kelompoknya bakal mendominasi wilayah Tapal Kuda.
Shujahri menambahkan, di wilayah Mataraman, perebutan suara bisa ditentukan sejumlah faktor. Faktor pertama adalah mesin partai. Dalam hal ini Prabowo diuntungkan dengan masuknya Partai Demokrat yang punya kekuatan di beberapa kabupaten Mataraman.