Suko Widodo Sebut Muhaimin dan Mahfud MD Sosok Bagus jadi Cawapres, Hanya Tidak Aktif Jadi Pengurus NU

PUBLIKSATU, JAKARTA - Dua bakal cawapres yang sudah dideklarasikan oleh parpol pengusungnya merepresentasikan Nahdlatul Ulama (NU). Yaitu, Muhaimin Iskandar dan Mahfud MD. Kalangan NU ini disebut-sebut sebagai pendulang suara. Berikut petikan wawancara Jawa Pos dengan pengamat politik Suko Widodo soal Pilpres 2024
Apakah memilih bacawapres dari kalangan NU di Jawa Timur (Jatim) adalah strategi yang tepat untuk pemenangan Pilpres 2024?
Menurut saya, NU itu terdiri dari lima subkultur di Jawa Timur, yakni Mataraman, Pendalungan, Madura, Arek, dan Tapal Kuda. Harus diakui, NU mempunyai jejaring akar ke bawah. Lewat Banser, Ansor, dan Muslimat di antaranya. Itu yang membuat banyak orang meyakini NU bisa digerakkan dalam satu komando. Namun, dalam praktiknya sebetulnya bisa berbeda.
Baca Juga: Pasangan Ganjar-Mahfud MD Tegaskan Indonesia Bakal Bebas Korupsi
Bagaimana menurut Anda dengan dua bacawapres yang sudah resmi dideklarasikan sebagai pasangan Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan?
Dua sosok tersebut bagus-bagus. Namun, memang keduanya tidak aktif sebagai pengurus NU. Cak Imin (sapaan Muhaimin Iskandar, Red) sudah masuk politik dan Pak Mahfud berkiprah di dunia hukum dan akademisi. Masing-masing memiliki kekuatan. Cak Imin punya banyak interaksi dengan organisasi. Sementara Pak Mahfud dikenal sebagai sosok tegas dan pintar di kalangan intelektual NU.
Tinggal Prabowo Subianto yang belum mengumumkan bacawapres. Menurut Anda, apakah juga harus fokus pada kantong suara NU di Jatim?
Baca Juga: Sebagai Capres-Cawapres, Ganjar Pranowo dan Mahfud MD Resmi Mendaftar ke KPU
Banyak tokoh yang sudah bermunculan yang digadang-gadang cocok mendampingi bacapres Prabowo Soebianto. Mulai Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka, hingga Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Sebetulnya, kalau melihat kantong suara NU di Jatim sebagai basis massanya tidak salah. Namun, kita harus hati-hati. Sebab, pemilih saat ini sudah cair karena terhubung dengan digitalisasi luar biasa.
Sebab, pilpres sifatnya nasional. Tidak cukup dengan pertimbangan lokalistik seperti itu. Jika bersifat lokalistik, justru daerah lain akan iri dan menimbulkan keterbatasan peluang. Selama ini kalangan nahdliyin lebih berkonsentrasi pada perilaku keseharian dalam hidup berdampingan. Ahlussunnah wal jama’ah. Untuk soal politik diserahkan kepada masing-masing orang. (ayu/c9/ttg)