Nasional

Ekonom: Pj. Gubernur Sulsel Tidak Paham Tentang Bangkrut Secara Ilmu Ekonomi

Oleh Ramli Akhmad · Jumat, 20 Oktober 2023 08:36 WIB · 3 menit baca
Bagikan
Ekonom: Pj. Gubernur Sulsel Tidak Paham Tentang Bangkrut Secara Ilmu Ekonomi
Yusuf Rendy (ist)

PUBLIKSATU, JAKARTA - Kondisi anggaran Sulawesi Selatan (Sulsel) dikabarkan mengalami defisit sebesar Rp 1,5 triliun. Saat jni, wilayah tersebut sedang menjadi sorotan, ketika Pj. Gubernur Sulsel Bahtiat mengatakan Sulsel sedang dalam keadaan bangkrut.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy menilai secara umum biasanya negara atau daerah dikategorikan sebagai negara atau daerah bangkrut ketika tidak bisa membiayai segala aktivitas yang berkaitan dengan pelayanan publik di daerah atau negara tersebut.

Baca Juga: Pasangan Anies-Cak Imin dan Ganjar-Mahfud Dipastikan Jalani Tes Kesehatan Pekan ini di RSPAD

“Saat bersamaan alternatif yang bisa digunakan untuk membiayai beragam aktivitas publik itu juga sudah tidak bisa digunakan oleh suatu negara atau dua daerah yang dikategorikan sebagai negara atau daerah yang bangkrut,” ujarnya, Rabu (18/10/2023).

Dia menjelaskan, kasus Sulawesi Selatan, secara implisit, pernyataan bangkrut ini didasari atas kondisi defisit yang terjadi di Sulawesi Selatan. Namun, menurutnya yang perlu menjadi catatan sebuah ataupun ketika anggaran itu mengalami defisit suatu daerah itu tidak bisa langsung dikategorikan sebagai daerah yang bangkrut.

“Karena ada perbedaan di dalamnya termasuk daerah tersebut sudah tidak punya kemampuan dalam membiayai beragam aktivitas publik. Jadi Pj Gubernur Sulsel tidak paham tentang arti bangkrut secara ilmu ekonomi pemerintahan”, katanya.

Menurutnya, jika melihat banyak daerah, tidak hanya Sulawesi Selatan, anggaran mereka memang didesain mengalami defisit. Adapun desain ini sudah mempertimbangkan tata kelolaan dari pendapatan asli daerah dan transfer dari pemerintah pusat.

Selain itu desain defisit juga sudah mempertimbangkan sisa penggunaan anggaran pada tahun sebelumnya yang masih bisa digunakan tahun berikutnya beragam aktivitas pelayanan publik, sehingga defisit yang terjadi itu.

Setidaknya masih berada dalam kaidah-kaidah yang disepakati terkait regulasi defisit pada pemerintah daerah,” ujarnya.

Rendy menyebut Sulsel masih relatif mampu dikelola dengan beberapa hal termasuk di dalamnya melakukan refocusing anggaran aktivitas anggaran yang dianggap bisa ditunda sementara waktu dan memanfaatkan sisa anggaran pada tahun sebelumnya. Selain itu, Pemerintah provinsi Sulawesi Selatan bisa melakukan negosiasi, terutama utang yang jatuh tempo dalam waktu yang relatif pendek dan diganti dengan tenor waktu yang relatif lebih panjang.

Baca Juga: Masuk Salah Satu Cawapres Prabowo, Kekayaan Gibran Rakabuming Lebih Rp 26 Miliar

“Saya kira ini untuk memastikan distribusi dari utang itu relatif merata dan tidak terpusat pada satu tahun anggaran tertentu,” katanya.

Sebelumnya Pj Gubernur Sulawesi Selatan Bachtiar Baharuddin menyebut kebangkrutan terjadi karena utang yang ditinggalkan Andi Sudirman Sulaiman sewaktu menjabat gubernur. Tercatat defisit sebesar Rp 1,5 triliun terjadi selama bertahun-tahun akibat perencanaan anggaran yang keliru.

Bahtiar menganalogikan Sulawesi Selatan sebagai kapal yang sudah lama tenggelam sebelum dinakhodai dirinya. Dia menyebut akan melakukan penghematan dengan menekan anggaran belanja tiap OPD Sulawesi Selatan hingga akhir tahun ini.

Bagikan