Berita Terkini
Kesehatan

Ini Bedanya Herbal dalam Negeri dan Herbal Impor!

Oleh Haeruddin · Jumat, 3 November 2023 13:56 WIB · 2 menit baca
Bagikan
Ini Bedanya Herbal dalam Negeri dan Herbal Impor!
Tanaman herbal dapat bantu cegah penyakit. (Foto: diambil dari jawapos.com)

PUBLIKSATU, - Obat herbal memang masih dipercaya masyarakat sebagai salah satu alternatif penyembuhan penyakit karena kandungannya terbuat dari bahan alam.

Namun sayangnya, obat herbal yang berasal dari luar negeri seperti Tiongkok dan India ternyata tidak selalu 100 persen terbuat dari bahan alam.

Baca Juga: Kenali Penyakit Mental yang Rentan Menyerang Generasi Z Ini!

Diungkapkan Prof. Dr.rer.nat. apt.I Made Agus Gelgel Wirasuta, M.Si yang menjabat President of Indonesia chapter of HPTLC Association Udayana University, standarisasi dan regulasi pembuatan obat herbal tiap negara memang berbeda. Untuk obat Tiongkok dan India, regulasi di negara asalnya masih memperbolehkan penggunaan bahan kimia obat atau BKO.

“Saya pernah kontrol obat herbal Tiongkok yang masuk, dia dijual sebagai penurun tensi, dan mereka memang mengizinkan menambahkan bahan kimia, regulasinya masih boleh (pakai BKO, Red), masyarakat tahu nya bagus saja,” ujar Prof Made saat Conference dan workshop Asosiasi HPTLC Chapter Indonesia dengan tema ‘HPTLC: The future of Quality Assurance for Indonesian Herbal Medicine’.

Sedangkan di Indonesia, regulasinya memang tidak membolehkan penggunaan BKO. Sehingga, Prof Made meyakinkan, kalau obat herbal Indonesia justru lebih bisa dipercaya karena menggunakan bahan alam seutuhnya.

Sebab, ketika dikatakan obat herbal, maka produk tersebut memang berisikan sepenuhnya kandungan dari alam. Tidak ada campuran bahan kimia obat di dalamnya.

“Kalau memang ada campurannya, apa bedanya dengan obat-obat yang biasanya diminum,” tukasnya.

“Kita harus menginformasikan ke masyarakat kalau kualitas obat herbal kita sesuai dengan regulasi organic herbal one hundred percen tidak boleh ada chemical di dalamnya, sehingga hati-hati, karena regulasi di Tiongkok dan India masih mengizinkan itu,” pukasnya.

Baca Juga: 4 Tips Cara Hemat dan Sehat untuk Mahasiswa

Quality Control Terhadap Obat Herbal

Terkait quality control sebenarnya bisa dimulai dari pemilihan tanaman itu sendiri. Karena tidak semua jenis tanaman yang dianggap sebagai herbal bisa dijadikan obat.

Misalnya, ungkap Prof Made, Sambiloto itu ada puncak A, B, C dan seterusnya. Ada 11 puncak yang teridentifikasi. Dari situ diperjelas lagi. “Kalau yang terjadi sekarang kan, seperti semuanya diminum, ada pahit-pahitnya sebagai obat,” ujarnya.

Salah satunya pemilahan agar menemukan senyawa yang tepat adalah lewat pengembangan dan aplikasi HPTLC sebagai metode kontrol kualitas bahan baku dan produk bahan alam.

Bagikan