Berita Terkini
Nasional

Gen Z dan Milenial Diajak Melek Politik di Pilpres 2024

Oleh Djumaluddin, Publik Satu · Sabtu, 18 November 2023 07:46 WIB · 3 menit baca
Gen Z dan Milenial Diajak Melek Politik di Pilpres 2024
Koordinator Nasional Formasi Indonesia Moeda Syifak Muhammad Yus mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk mengajak Gen Z dan milenial melek politik di Pilpres 2024.

PUBLIKSATU, JAKARTA - Formasi Indonesia Moeda menggelar diskusi publik bertema 'Demokrasi di Mata Anak Muda Menghadapi Pilpres 2024' yang digelar di Aula IASTH, Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jakarta Jum'at (17/11).

Koordinator Nasional Formasi Indonesia Moeda Syifak Muhammad Yus mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk mengajak Gen Z dan milenial melek politik di Pilpres 2024. Sebab, suara milenial dan gen-Z bakal mendominasi Pemilu 2024 yang sudah di depan mata.

Syifak tidak ingin anak muda yang menjadi pemilih mayoritas hanya sekedar menjadi objek, tetapi juga harus aktif berperan dalam pesta 5 tahunan tersebut.

"Dari data KPU penetapan DPT Caleg DPR RI yang diusung 18 partai politik (Parpol) sebanyak 67 persen lebih dari 41 tahun, 12 persen lebih dari 61 tahun dan di bawah 41 tahun hanya 33 persen. Melihat dari data tersebut anak muda masih berada di posisi pinggir, belum mengambil posisi yang strategis," ujar Syifak dalam keterangannya, Jumat (17/11).

Baca Juga: Panitia Sebut Ada Pihak yang Sengaja Mengancam dan Menghalangi, Anies Batal Jadi Pembicara di Yogyakarta

Syifak menduga, minimnya anak muda dalam kontestasi, karena masih banyak anak muda yang apolitis atau menganggap politik itu sesuatu yang kotor, sehingga anak muda enggan untuk terjun ke dalam dunia politik.

"Negara demokratis tidak lepas dari partai politik, namun generasi muda masih antipati, maka harus ada pemahaman atau sesuatu yang diluruskan," ungkapnya.

Lebih lanjut Syifak menuturkan, pemilu yang diharapkan menjadi momentum konsolidasi demokrasi dan mempererat kesatuan bangsa tidak jangan hanya dimaknai sebagai jargon-jargon pemanis kampanye saja. Tetapi demokrasi harus dimaknai dan digunakan untuk usaha yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran dan kemajuan bangsa Indonesia.

“Di mata anak muda demokrasi harus termanifestasi dalam bentuk pemerataan pembangunan, hilirisasi industri, kesempatan memimpin bagi semua anak bangsa tanpa ada pembatasan pembatasan dan selalu menempatkan kepentingan bangsa diatas kepentingan lain,” tutur Syifak

Sebab menurut Syifak, posisi generasi muda tahun politik juga sangat rawan terpapar hoax yang dapat menimbulkan kegaduhan, adu domba dan perpecahan. Maka, oleh karena itu mendorong agar para politisi dan elit parpol lebih mengarah ke kampanye politik positif daripada kampanye negatif, apalagi hoaks.

Baca Juga: Dengarkan Keluh Kesah Buruh, Ganjar Didoakan jadi Presiden di Tangerang

"Saatnya calon pemimpin lebih mengutamakan kampanye visi dan misinya daripada hanya menyerang pihak lain menggunakan isu isu yang belum terbukti," ucapnya.

Lebih jauh Syifak juga menjelaskan demokrasi sudah semestinya dimaknai sebagai satu ruang gagasan untuk semua termasuk anak muda. Pemilu tidak lagi sebagai ruang yang melahirkan konflik kontra produktif namun menjadi ruang dialektika.

"Perbedaan pilihan adalah perbedaan gagasan untuk kemajuan bersama, pertarungan gagasan itu memungkinkan setiap anak bangsa dapat menyumbangkan pikirannya, setidaknya Indonesia EMAS 2045 dalam mencapainya akan lebih mudah karena dipikirkan oleh semua golongan," tukas Syifak.