Hubungan Memanas, Korea Utara Sebut AS Negara Bermuka Dua

PUBLIKSATU, - Hubungan Korea Utara dengan Amerika Serikat (AS) baru-baru ini memanas. Hal ini karena saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, Kim Yo Jong beserta seorang pejabat senior mengatakan AS menunjukkan standar ganda yang ekstrem.
Klaim Washington dinilai bermuka dua ini didapatkan ketika negara tersebut mengikuti pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) minggu ini. Dilansir dari Reuters, klaim standar ganda diungkapkan oleh Kim Yo Jong saat AS membahas mengenai peluncuran satelit mata-mata Korea utara baru baru ini.
Baca Juga: Perpanjang Genjatan Senjata, 30 Sandera Palestina Ditukar dengan 12 Sandera Israel
Pertemuan Dewan Keamanan PBB tersebut memicu pertengkaran publik yang jarang terjadi antara Duta Besar AS Linda Thomas-Greenfield dan Duta Besar Korea Utara Kim Song, keduanya berpendapat bahwa aktivitas militer negara mereka bersifat defensif.
Kim Yo Jong mengatakan, Thomas-Greenfield menyoroti upaya untuk membuka kembali perundingan dengan Pyongyang meskipun negara tersebut tidak memiliki dasar yang dapat dibenarkan untuk menolak hak kedaulatan atas pengembangan ruang angkasa.
Selain itu, AS dinyatakan sebagai negara bermuka dua tak lain karena berusaha membuka hubungan diplomatik dengan Pyongyang namun dipadukan dengan aktivitas kapal induk serta kapal selam AS yang dikerahkan di semenanjung Korea. Atas dasar tersebut, Pyongyang kemudian berjanji tidak akan membuka negosiasi kedaulatan dengan Washington.
“Kedaulatan sebuah negara merdeka tidak akan pernah bisa menjadi agenda perundingan, dan oleh karena itu, DPRK tidak akan pernah bertatap muka dengan AS untuk tujuan tersebut,” ujar pemimpin Korut, Kim Jong Un.
Sebagai informasi, Pyongyang sebelumnya bersiap meluncurkan satelit mata-mata yang bertujuan mengintai AS dan sekutunya.
Kim Jong Un juga kembali mengunjungi pusat kendali badan antariksa di Pyongyang Pada Senin (27/11) untuk melihat foto satelit baru yang akan segera diluncurkan dari pangkalan Angkatan Udara Anderson Amerika dan Roma.
Korea Utara akan terus menggunakan hak kedaulatannya termasuk peluncuran satelit untuk memperkuat militer. Kementerian luar negeri Korea Utara mengatakan, peluncuran satelit pengintaian pekan lalu didorong oleh kebutuhan untuk memantau Amerika Serikat dan sekutunya, media pemerintah KCNA melaporkan. (jpg)