Pj Bupati Busel Harap Perangkat Adat Bantu Pemerintah
Bagikan

PUBLIKSATU, BATAUGA--Keberdaan Parabela bersama perangkatnya dapat membantu pemerintah dalam penyelesaian permasalahan di masyarakat. Baruga dapat dijadikan sebagai tempat untuk duduk bersama.
Hal ini diungkapkan Pj Bupati Busel La Ode Budiman beberapa waktu lalu. Kata dia, Baruga diharapkan menjadi wadah penyelesaian persoalan dimasyarakat.
Ini diungkapkan saat menghadiri salah satu kegiatan budaya di Kelurahan Majapahit. Hadir pula Lakina Buru Kene, Parabela bersama perangkat, Tokoh Agama bersama Perangkat, Lurah Majapahit, dan masyarakat Kadie Bhola, kegiatan Ritual Pembersihan Mata Air Hara Mpangi dan Mata Air Hara Mata Benua di Kelurahan Majapahit.
Ia juga mengharapkan selain itu, perangkat ada juga dapat melestarikan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang ada di kelurahan Majapahit yang hampir punah. Agar generasi muda hari ini dapat mengetahui ritual yang telah berlangsung secara turun temurun sampai dengan saat ini. Disamping itu ia juga menyampaikan pula bahwa perhatian pemerintah Buton Selatan untuk keberlangsungan pesta adat benoa tetap akan ada setiap tahun.
Sebelum berdirinya Kerajaan Buton, Kadie Bola merupakan salah satu kerajaan kecil dari Sembilan kerajaan di Buton yang kemudian 9 kerjaan ini di sebut Sio Lipuna. Sejarah berdirinya kerajaan Buton pada tahun 1332 M. Kerajaan Bola bergabung dalam wilayah kerajaan Buton.
Kadie Bola terdiri dari beberapa Negeri (Limbo) yaitu Limbo Lakote, Lampanairi, Langkali, La Jengho, Lakulepa dan Lembo Kaudawa serta Lembo Toowa (Negeri Besar) yang di sebut dengan Lapala. Kebesaran Lembo Lapala berawal sejak tahun 1365 dimana kala itu Patih Cimangku Bumi Majapahit mendarat di pantai dola’a tepatnya di pesisir Pantai Masiri. Sebelah selatan Pati Gajah Mada kemudian mendiami pegunungan wamoroko pada Kawasan hutan Ombo yang tepatnya di pasir makam Mahapati Gajah Mada saat ini.
Sejak saat itulah bermula penamaan sumber air mata benua dan harampali, dimana di antara keduanya Mahapati Gajah Mada bersama orang-orang Lapala dan kampung-kampung terdekat membuat saluran air untuk bisa di manfaatkan pada lahan-lahan pertanian dan juga sebagai sumber air bersih.
Sejarah saat itu kedua sumber air ini menjadi suatu Kawasan konservasi yang disebut kaombono sara (Kawasan Lindung).Untuk menjaga Kawasan lindung ini, sara Kaide Bhola pada pemerintahan Sultan Buton Laelangi (Sultan Dayanu Ikhsanuddin) tahun 1586 membuat peraturan yang di sebut Tutura Kano Sara bahwa apabila penduduk negeri merusak Kawasan lindung Mata Air Hara Mata Benua dan Mata Air Hara Mpangi, maka yang tersebut akan mendapat bala yang di dengar katundano liwu dimana orang tersebut apabila ke laut akan di telan ikan, apabila dia ke hutan maka di telan ular, yang pada Sampuliga orang tersebut dikena kutukan negeri berupa Sodompue dan Laentube.
Bertitik tolak dari tuturaka tersebut, maka mata air mata Hara benua dan Hara Mpangi selalu terjaga sampai hari, dimana pada setiap tahunnya diadakan pembersihan air yang dinamakan Pelumeano Uwee, yang dalam rangkaiannya di tutup dengan haroano pelumeano uwee di baruga bersama sara dan masyarakat. (aga)