Pemkab Mubar Sukses Kendalikan Inflasi dari 9,23 menjadi 2,02 Persen

PUBLIKSATU, LAWORO - Minggu pertama pasca dilantik menjadi Pj Bupati Muna Barat, La Ode Butolo langsung dihadapkan dengan masalah inflasi. Masuk 10 besar sebagai daerah tertinggi Indeks Perkembangan Harga (IPH) se-Indonesia.
Hal itu terurai berdasarkan data release Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) per 8 Januari 2024. IPH Mubar tercatat 9,23 persen. Komoditas pangan sebagai penyumbang inflasi, yakni cabai rawit, beras premium, dan udang basah.
Cukup mengagetkan, sebab minggu ketiga Desember 2023, IPH Muna Barat berdasar data Kemendagri masih dikisaran 3, 04 persen. Melonjak diawal Januari mencapai 9,23 persen. Pj Bupati La Ode Butolo mengatakan asumsi kenaikan IPH itu ditengarai faktor pergantian tahun.
"Lajunya pergerakan IPH mendorong kita Pemkab Mubar, bereaksi dengan sejumlah kebijakan. Mendiagnosis harga pasar sebagai langkah awal. Bergerak dari pasar ke pasar guna memastikan harga dan ketersedian pasokan pangan. Selanjutnya, membentuk Rumah Pangan Kita (RPK) di 13 pasar yang tersebar di sejumlah kecamatan,"ungkapnya.
Program RPK merupakan kolaborasi antara Pemkab Mubar bersama Perum Bulog. Pemkab memberi bantuan modal di masing-masing RPK Sebesar Rp. 21 juta. Dana itu digunakan untuk membeli beras kepada Bulog. Selanjutnya dijual kembali kepada masyarakat dengan harga murah dibanding harga pasar. Pemda menjamin stok beras tetap tersedia di setiap RPK.
"Pilihan berikutnya untuk menekan angka inflasi yang sangat tinggi itu kebijakan Pasar murah. Intervensi dini dilakukan, utamanya pada jenis pangan terdampak, seperti beras, minyak goreng, telur dan beberapa jenis pangan lainnya. Kita kerjasama dengan Dinas Ketahanan Pangan Sultra. Pasar murah itu dilakukan dua hari secara berturut-turut,"tutur, Staf Ahli Pemprov Sultra itu.
Usaha Pemkab Mubar dibawah pimpinan La Ode Butolo berbuah manis. Dua kebijakan yakni RPK dan pasar murah sangat berdampak pada turunnya IPH. Minggu kedua Januari, data release Kemendagri turun dari 9, 23 persen
menjadi 3, 94 persen. Meski sudah turun secara drastis, pihaknya terus bergerak berupaya semaksimal mengendalikan inflasi. Sebab belum bergeser dari 10 besar daerah tertinggi IPH.
"Target untuk keluar dari tabel 10 besar terus digalakkan. Kita melaunching gerakan tanam cabai. Dinas Ketahanan Pangan menyediakan bibit sebanyak 86 ribu guna dibagi kepada masyarakat. Alhamdulillah Tim Penggerak PKK kecamatan, desa, berpartisipasi dalam budidaya cabai ini,"ucapnya.
Menurutnya, untuk saat ini stok cabai diyakini tidak lagi menjadi masalah. Apalagi, belum lama ini sejumlah petani dibeberapa desa seperti Desa Lakabu, Kecamatan Tiworo Tengah sedang panen. Seluas 2,5 hektare kebun cabe dipanen dan siap edar di seluruh pasar di Mubar. "Cabai ini salah satu komoditas penyumbang inflasi. Alhamdulillah, dari harga perkilo Rp 80 ribu turun tinggal Rp 50 ribu perkilo,"katanya.
Belum cukup sebulan kerja La Ode Butolo sukses kendalikan inflasi. Data release terbaru, senin (22/01/2024) Kemendagri menyebut IPH Mubar tersisa 2,02 persen. Buah kerja keras Pemkab Mubar cukup meyakinkan. Mantan Kadis PUTR Mubar itu meyakini IPH akan terus turun seiring dengan intervensi secara simultan.
"Inflasi di Mubar menjadi isu hangat secara nasional. Diawal Januari IPH tembus diangka 9,23 persen. Olehnya saya langsung mengadakan rapat. Setelah itu sidak dipasar-pasar dan membentuk RPK. Syukur kita berhasil menurunkan angka IPH dari 9,23 menjadi 2,02 persen sampai Februari ini,"terangnya.(Gola)