Diduga Pelatih Marching Band SMAN 1 Baubau Aniaya Siswa Hingga Masuk Rumah Sakit

PUBLIKSATU, BAUBAU - Dunia pendidikan kembali mempertontonkan keganasanya bagaimana tidak, tindakan kekerasan fisik kembali terjadi menimpa delapan orang siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Baubau.
Salah satunya, Sultan Alwahab siswa kelas Xl jurusan olimpiade ll SMA Negeri 1 Baubau merupakan anggota grup tenor marching band mendapatkan intimidasi langsung dari pelatih marching band SMA Negeri 1 Baubau.
Ery Muchyar sebagai orang tua Sultan Alwahab mengatakan, anaknya adalah salah satu anggota marching band saat itu sedang mengikuti pelatihan di sekolah untuk persiapan tampil dalam sebuah kegiatan di Kabupaten Buton Tengah (Buteng).
Adapun kronologis kejadian, berawal dari grup tenor marching band SMA Negeri 1 Baubau melakukan pelatihan di sekolah pada hari minggu 27 Juli 2024 dimana waktu pelatihan dimulai dari pagi sampai soreh hari.
Menurutnya, setelah dia (Ery-Red) menggali informasi dari anaknya diduga salah seorang dari grup tenor ada sedikit nada sedikit melenceng sehingga disitu membuat pelatih marah dan melakukan aksi pemukulan terhadap beberapa siswa termaksud salah satunya adalah Sultan Alwahab.
Ia melanjutkan, berdasarkan keterangan diambil dari Sultan, Sultan dipukul dibagian rusuk sebelah kanan dengan pukulan keras dampaknya Sultan mengalami sesak nafas dan munta-munta karena tidak tahan dengan sakit dialami akhirnya di larikan di rumah sakit Palagimata.
"Terus saya mendapatkan kabar terkait anak saya dipukul itu setelah anak saya itu pulang dari sekolah dan dia melaporkan kepada ibunya terkait dengan pemukulan dan memang pada saat pemukulan itu dibagian pemukulan itu ada merah dibagian rusuk kananya, tuturnya kepada Publiksatu.co ditemui di RSUD Palagimata, senin 29/7.
"Terus kemudian istri saya melaporkan kesaya terkait dengan pemukulan, terus periksa dan memang pada saat itu kondisinya sakit untuk disentuh dibagian rusuk kanannya. Itu selanjutnya karena anak saya ini dipersiapkan untuk tampil di Buteng untuk marching," katanya seraya kawatir dengan kondisi kesehatan Sultan.
Rencana marching band SMAN 1 tampil di Buteng hari selasa 23 Juli 2024 dan praktis hari senin 22 Juli 2024 sudah harus berangkat di Buteng. Ery sebagai orang tua kawatir dengan kondisi kesehatan anaknya sehingga ia bertanya kepada Sultan apakah masih mau tampil dengan kondisi kesehatan tersebut namun pada akhirnya Sultan tetap berangkat.
Kata Ery, yang menjadi pertimbangan Sultan tetap ngotot berangkat di Buteng untuk tampil karena pertama dia membawa nama baik sekolah, kemudian disisi lain ada semacam ketakutan jangan sampai kembali mendapatkan hukuman dari pelatih.
"Setelah tiba di Buteng besoknya hari senin saya tannya lagi sama anak saya, bagaimana apakah bisa melanjutkan? Anak saya ternyata dia jawab bisa. Ternyata sampai di Biteng sampai dengan pulang hari rabu masih sempat masuk sekolah terus hari kamis subuh itu sudah mulai demam tinggi dan menggigil selain itu dalam keadaan munta-munta terus menerus," ujarnya.
Pun, Sultan mendapatkan penganiayaan awalnya Ery dan keluarga masih memberikan kesempatan bagi pelaku dan keluarga agar meminta maaf kepada korban namun dari waktu diberikan tidak terlihat ada tanda-tanda dari pelaku memiliki ittikad minta maaf.