Kedok Biaya Administrasi, Mahasiswa IKT Buton Raya Mengaku Dimintai Hingga Belasan Juta Untuk Mendapatkan KIP

PUBLIKSATU, BAUBAU - Rektor Institut Kesehatan dan Teknologi (IKT) Buton Raya diduga melakukan pemerasan kepada mahasiswa yang ingin mendapatkan bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP).
Berdasarkan pengakuan salah seorang mahasiswa yang enggan menyebutkan nama, ia mengatakan, mahasiswa yang mau diuruskan untuk mendapatkan bantuan KIP dengan dipersyaratkan harus membayar sejumlah uang sebagai biaya administrasi.
"Jadi pertamanya kita itu kita disuruh membayar 4 juta buat mengurus KIP nah setelah mendapatkan KIP kita dimintai lagi uang sebesar 5 juta katanya buat biaya administrasi," katanya kepada beberapa wartawan disalah satu caffe di Baubau, Senin 12/5.
Dikatakan mahasiswa IKT Buton Raya tersebut, mahasiswa yang menjadi korban pemerasan kurang lebih sebanyak ratusan orang adapun jumlah besaran yang dimintai bervariasi mulai dari Rp 9 juta hingga Rp 12 jutaan.
Menurutnya, penerima KIP yang dibebani hingga belasan juta tersebut atas intruksi rektor hanya saja tahapan proses diperintahkan kepada kepada dosen yang mengurus KIP.
Untuk memastikan kebenaran kegiatan pemerasan kepada mahasiswa tersebut, wartawan koran ini mencobah melakukan upaya konfirmasi ke pihak rektor hanya saja rektor terkesan menghindari wartawan.
Karena tidak berada di kampus, wartawan koran ini mencobah menghubungi lewat sambungan telpon dan rektor mengatakan lagi berada di Kabupaten Buton Tengah dan belum bisa memberikan komentar, Rabu 14/05/2025.
Di hari kedua Kamis, (15/05/2025) wartawan koran ini mencoba melakukan upaya konfirmasi namun lagi-lagi hasilnya nihil alias Rektor IKT Buton Raya, La Ode Muhammad Irwin Syawal S.S M.Hum tidak berada ditempat.
Peliput: Murdin