Berita Terkini
Nasional

Tak Ada Jalan Pintas untuk Menjadi Dokter Berkualitas dan Profesional

Oleh Ramli Akhmad · Sabtu, 17 Mei 2025 23:44 WIB · 2 menit baca
Tak Ada Jalan Pintas untuk Menjadi Dokter Berkualitas dan Profesional

Penulis: Bambang Budiono

(Pemerhati Masalah Kesehatan tinggal di Makassar)

PERJALANAN untuk menjadi seorang dokter boleh dikatakan amat melelahkan. Malam-malam yang panjang, hari-hari yang sepi, dan ujian yang melelahkan akan menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan untuk menjadi seorang dokter.

Tak jarang memperoleh ujian tambahan, terkadang harus mengulang satu semester atau setahun penuh. Para staf pengajar tidak bisa memaafkan kekurangan yang amat mendasar dan tidak akan ragu untuk membiarkan calon dokter mengalami perpanjangan masa pendidikan jika melihat ada alasan kuat.

Lebih baik membiarkan mereka ‘menderita’ agar menjadi dokter yang handal, daripada membiarkan pasien menjadi korban karena kemampuan klinis yang tak sesuai standar. Para calon dokter dan dokter spesialis ditempa menjadi individu yang tangguh, dan penuh dengan pengetahuan serta ketrampilan klinis.

Di sebagian besar negara, mahasiswa fakultas kedokteran wajib lulus dengan nilai memuaskan sebagai sarjana kedokteran, kemudian melanjutkan pendidikan klinis selama 2 tahun sebagai dokter muda atau ko-asisten, disambung lagi dengan masa internship 1 hingga 2 tahun.

Diharapkan setelah itu para calon dokter memiliki standar kompetensi untuk melayani masyarakat. Jika ingin menjadi spesialis, masih harus menjalani pendidikan selama 3 ½ hingga 5 tahun tergantung jenis spesialisasinya, jika semua proses berjalan lancar.

Oleh karenanya, tak sedikit orang tua yang menginginkan anaknya mengambil pilihan profesi lain yang lebih cepat lulus dan tentunya bisa bekerja dengan lebih cepat.

Ada beberapa alasan mengapa menjadi dokter memerlukan waktu panjang, usaha keras, dan dedikasi:

1. Kompleksitas tubuh manusia: Kedokteran adalah bidang yang kompleks yang memerlukan pemahaman mendalam tentang anatomi, fisiologi, dan patologi.

2. Pertaruhan nyawa: Dokter tak jarang bertanggung jawab dalam mengambil keputusan untuk melakukan tindakan disaat genting, sehingga mereka perlu dilatih secara komprehensif untuk memastikan keselamatan pasien. Hal tersebut tak bisa dibentuk dalam waktu singkat dengan sistem pelatihan atau kursus dalam hitungan bulan.

3. Evolusi yang konstan: Pengetahuan dan teknologi medis terus berkembang, sehingga dokter wajib mengikuti perkembangan terkini.

4. Pengalaman praktis: Kedokteran adalah profesi langsung yang memerlukan pengalaman klinis yang luas untuk mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk menangani para pasien.

5. Pertimbangan etika: Dokter perlu memahami dan menerapkan prinsip-prinsip etika dalam praktik sehari hari.

Para mahasiswa kedokteran maupun peserta pendidikan dokter spesialis menjalani proses belajar secara bertahap, karena ada banyak hal yang harus dipelajari.

Selama ratusan tahun, kurikulum pendidikan kedokteran telah mengalami berbagai perbaikan. Mahasiswa kedokteran dipaparkan pengalaman klinis, dan kemudian dilakukan supervisi secara ketat untuk untuk memastikan mereka memperoleh keluasan keahlian yang dibutuhkan untuk mendukung ilmu yang mereka pelajari.