Berita Terkini
Kepton

Benteng Patua, Simbol Keteguhan dan Semangat Perlawanan Masyarakat Tomia Melawan Penjajah

Oleh Suparman · Rabu, 28 Mei 2025 01:48 WIB · 4 menit baca
Benteng Patua, Simbol Keteguhan dan Semangat Perlawanan Masyarakat Tomia Melawan Penjajah
Kelvin_is 465 , seorang Pengujung yang akan menjelajahi Benteng Patua. (Suparman)

PUBLIKSATU, TOMIA - Benteng Patua merupakan salah satu situs bersejarah yang menyimpan cerita tentang perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan Belanda di Sulawesi Tenggara. Terletak di Desa Patua II, Kecamatan Tomia, Kabupaten Wakatobi, benteng ini berdiri kokoh dengan ketinggian sekitar 150 kaki di atas permukaan laut. Dengan lokasinya yang strategis,

Benteng Patua menjadi simbol kekuatan dan semangat perlawanan masyarakat lokal dalam menghadapi penjajahan. Hingga saat ini, benteng ini masih menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik bagi pengunjung yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang sejarah perjuangan masyarakat Tomia.

Benteng Patua menunjukkan kecerdasan arsitektur dalam pemanfaatannya terhadap kondisi alam. Dengan dibangun di atas bukit, benteng ini secara efektif menggunakan topografi alam sebagai bagian dari sistem pertahanannya. Beberapa bagian yang terjal tidak memerlukan dinding tambahan karena kemiringan bukit itu sendiri sudah menjadi penghalang alami.

Bentuk benteng yang mengikuti kontur bukit juga memperlihatkan adaptasi yang baik terhadap lingkungan sekitar, sehingga memperkuat posisi dan fungsi benteng sebagai tempat pertahanan yang strategis. Desain seperti ini menunjukkan bahwa pembangun benteng telah memanfaatkan kondisi geografis untuk meningkatkan keamanan dan efektivitas benteng dalam menghadapi serangan.

Dikutip dari Tribunsultra.com, Seorang penjaga benteng tersebut, Tuumani, mengatakan Benteng Patua merupakan salah satu benteng pertahanan dari musuh saat masa penjajahan bangsa Belanda.

"Yah dengan letaknya strategis, dari benteng ini merupakan pertahanan masyarakat dan kepala adat untuk mengintai kedatangan musuh yang saat itu memang pergerakan musuh melalui jalur laut arah Pulau Kaledupa," ujarnya (27/5/2025).

Di area Benteng Patua, pengunjung dapat menemukan meriam atau badili yang terletak secara strategis. Meriam ini mengarah ke arah utara, atau lebih tepatnya ke arah Pulau Kaledupa, menunjukkan bahwa posisi dan penempatan meriam tersebut dirancang untuk mengantisipasi potensi serangan atau ancaman dari arah tersebut. Kehadiran meriam ini juga menjadi bukti bahwa Benteng Patua dilengkapi dengan persenjataan yang memadai untuk pertahanan pada masa itu, dan merupakan bagian penting dari sistem pertahanan benteng dalam menghadapi musuh. Meriam ini juga menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung yang ingin melihat langsung peninggalan sejarah dan teknologi militer pada masa lampau.

Di area dalam benteng bagian utara, terdapat beberapa makam pahlawan yang berasal dari masa Kesultanan Buton, di antaranya makam Wa Kaka, makam Wa Ode Mbero, makam Wa Ode Bula, dan makam La Ode Guntu. Makam-makam ini menjadi bukti sejarah penting tentang tokoh-tokoh yang berperan dalam sejarah Kesultanan Buton dan kaitannya dengan Benteng Patua. Selain makam-makam tersebut, area benteng juga menyimpan peninggalan sejarah lainnya, seperti struktur masjid yang unik karena tersusun dari batu karang.

Struktur masjid ini menunjukkan adanya pengaruh agama dan budaya dalam arsitektur dan kehidupan masyarakat pada masa itu. Keberadaan makam dan struktur masjid ini menambah nilai historis dan spiritual dari Benteng Patua, menjadikannya sebagai situs yang kaya akan sejarah dan budaya.

Di dalam area Benteng Patua, terdapat beberapa struktur dan tempat yang memiliki nilai sejarah dan fungsi yang berbeda-beda. Salah satunya adalah Baluara atau tempat pelantikan, yang kemungkinan digunakan untuk upacara adat atau pelantikan pejabat penting pada masa Kesultanan Buton. Selain itu, terdapat juga struktur bekas rumah yang menunjukkan bagaimana kehidupan sehari-hari masyarakat atau penguasa pada masa itu.

Tidak hanya itu, Benteng Patua juga memiliki tempat persembunyian yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai "Lia Oko'a". Tempat ini kemungkinan digunakan sebagai tempat berlindung atau persembunyian ketika terjadi serangan atau ancaman dari luar. Keberadaan tempat-tempat ini menambah kompleksitas fungsi Benteng Patua, tidak hanya sebagai tempat pertahanan militer, tetapi juga sebagai pusat kehidupan sosial dan budaya masyarakat pada masa itu.

Selain itu benteng ini memiliki berbagai fasilitas dan struktur yang menunjukkan perencanaan dan fungsi yang terorganisir dengan baik. Salah satu fasilitas yang menarik adalah tempat pembuatan tikar atau "Lia Kie'a", yang menunjukkan bahwa masyarakat pada masa itu memiliki kegiatan ekonomi dan kerajinan yang beragam.

Benteng ini juga dilengkapi dengan sistem keamanan yang canggih untuk masa itu, seperti Pintu Lima yang berfungsi sebagai tempat mengintai dan memantau keadaan sekitar. Selain itu, terdapat juga pintu belakang yang dikenal sebagai "Lawa Liku Sofa" dan pintu terluar benteng yang menambah lapisan keamanan.