Tiga Permainan Tradisional Menjadi Pengikat Lomba Perayaan HUT Muna dan HUT RI

PUBLIKSATU, RAHA --- Momen perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 pemerintah daerah menggelar sejumlah rangkaian kegiatan lomba diantaranya lomba budaya seperti, lomba kalego, lomba rambi wuna, lomba lagu daerah, lomba lari karung dan beberapa lomba permainan tradisional Kabupaten Muna.
Untuk memeriahkan HUT RI dan perayaan HUT Kabupaten Muna ke 66 tahun Pemkab Muna juga melaksanakan pameran pembangunan, gebyar Industri Kecil Menengah (IKM) dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
Dalam sambutannya saat membuka Pameran Pembangunan, Bupati Muna, H. Bachrun menyampaikan, ditengah Efisiensi Anggaran pelaksanaan perayaan HUT kabupaten dan HUT RI tahun ini dirayakan secara sederhana dengan bergembira ceria.
Kata Bachrun, Pesertanya dalam setiap lomba adalah dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Jenis lombanya juga tak banyak memakan biaya banyak untuk mempersiapkan perlengkapan lomba, modalnya cukup, sepatu, pakaian, tempurung kelapa, musik tradisional gong dan gendang.
"Tiga lomba yang mengikat kita yaitu Lomba Kalego, lomba bola gotong dan lomba rambi wuna, lomba itu sebagai simbol kekompakan dan kebangkitan budaya kita," ujarnnya, Rabu, 13/08/2025.
Misalnya lanjut Bachrun, lomba permainan Kalego yang merupakan permainan tradisional masyarakat Kabupaten Muna. Dimana permainan ini menggunakan tempurung kelapa yang digerakan menggunakan kaki.
"Ini pesertanya dibagi dua kelompok, Permainan ini sebagai jembatan untuk menjalin silahturahmi," terangnya.
Sedangkan, Rambi Wuna kata Bachrun merupakan kesenian tradisional yang menggunakan alat musik seperti gong, gendang dan kasepe (pemukul gendang).
'Rambi Wuna tidak hanya sekadar musik, tetapi juga memiliki nilai sakral dan menjadi pengiring dalam berbagai upacara adat suku Muna," ujarnnya.
Untuk itu, Bachrun mengatakan di pemerintahannya bersama Wakil Bupati (Wabup) Muna, La Ode Asrafil yang baru masuk enam bulan namun diperhadapkan dengan berbagai masalah daerah diantaranya adalah tentang keterbatasan anggaran.
"Kami sadar, dengan keterbatasan anggaran masih banyak yang belum kami lakukan, makanya kami tidak mencantumkan 100 hari kerja seperti kepala daerah lain
Dengan keterbatasan anggaran, diakui masih banyak yang belum dilakukan. Karenanya, ia bersama Asrafil tidak mencantumkan program 100 hari kerja seperti kepala-kepala daerah lain. Karenanya bersama pak Asrafil kami menargetkan dalam jangka waktu lima tahun, program di sektor pertanian, perikanan dan peternakan yang dikenal dengan industrialisasi JATI (jagung, hortikultura, ternak dan ikan) dapat tercapain," jelasnya.