Dirut Klarifikasi Tindakan Dokter Ahli Kandungan yang Viral, Hingga Diusulkan Sanksi Pencabutan Izin Praktek di RSUD dr Baharuddin

PUBLIKSATU, RAHA ---- Dalam sepekan ini, kabupaten Muna di hebohkan dengan viralnya tindakan salah satu oknum Dokter yang menyebarkan video dan foto pasien saat dioperasi diruang operasi Rumah Raha Sakit dr. L. M. Baharuddin.
Oknum dokter itu adalah dokter ahli kandungan dr. Ruhwati Kadir. Ia memposting di strori WA pribadinya dan menjadi viral di media sosial terkait kondisi Alkes Rumah sakit di Ruang operasi yang menurut dia sangat memprihatikan.
Seperti, asisten dokter tak mengenakan Juba operasi diruang operasi, alat suntik, benang jahitan yang dianggap tidak layak dan sudah lapuk dan alat nakes lain yang menjadi sorotan bagi dokter yang akarab disapa dokter Ati itu.
Menanggapi viralnya tindakan yang dilakukan oleh oknum dokter ahli kandungan itu, dirut RSUD dr. L.M. Baharuddin, dr. Muhammad Marlin mengatakan bahwa alkes yang dimaksudkan diviralkan oleh dr. Ruhwati Kadir itu tidak benar.
"Kalau ada keluhan seperti itu harusnya ada konfirmasi ke Kami, tapi kan kita tidak tau, tiba-tiba dia ekpos di Medsos, ini yang kami sesalkan, kalau ada keluhan sampaikan ke kita," ungkapnya.
Marlin mengungkapkan, bahwa pihaknya telah memanggil penanggung jawab yang menangani urusan alat-alat seperti juga baju petugas di ruang operasi.
Marlin menerangkan, berdasarkan keterangan dari penanggung jawab tentang baju Juba yang diviralkan oleh dokter Ruhwati Kadir itu tidak kosong dan barangnya ada. Hanya saja ada miskomunikasi antara ruang operasi dan penanggung jawab seragam Juba operasi
.
Kata dia, menggunakan baju Juba buka seperti memakai baju biasa, buka dari kantungnya langsung di pakai, tetapi harus disterilkan 50 sampai 60 menit baru digunakan.
"Penanggung jawabnya kami panggil, menurut dia bahwa mereka melapor ada rencana operasi empat pasien, tapi tidak ada informasi bahasa sito (pasien darurat) dari ruang operasi. Kita punya saat itu ada lima belas set untuk kamar operasi itu, jadi bukan barangnya tidak ada, semua ada, cuma penyiapanya butuh proses, karena untuk menyiapkan itu harus disterilkan dulu kurang lebih 50 menit sampai satu jam, makanya kami juga bingung kalau disebut barang itu tidak ada apa maksudnya, apa tujuan dia seperti itu," ungkapnya.
Kemudian terkait dengan benang operasi yang di permasalahkan oleh dokter Ruhwati Kadir. Menurut marlin kejadian itu pada minggu lalu saat dokter Ruhwati Kadir melakukan operasi pasien.
"Jadi masalah benang itu kejadiannya Minggu lalu, Jadi ada tiga dokter yang melakukan operasi dengan prosedur yang sama dengan benang yang sama, mungkin dua dokter itu punya keluhan tetapi dua dokter itu tidak menjadikan masalah, makanya kepala farmasi katakan saya catat sebagai keluhan dokter, saya minta agar koordinasi dengan dokternya benang apa yang ini mereka pakai, saya sebagai direktur cuma bisa menyiapkan anggarannya," ungkapnya.
Marlin juga menerangkan, terkait penentuan standarisasi alkes yang akan di gunakan adalah dokter itu sendiri, pihak manejemen hanya mengadakan sesuai dengan permintaan dari dokter.
"Jadi sebelum dokter Ati itu datang dari Muna Barat masuk rumah Sakit ini, benang operasi yang di gunakan selama ini masih dokter Tamsila sendiri di rumah sakit ini, benang itu dan tidak ada keluhan dan benang itu dipakai oleh seluruh dokter selama ini dan tidak ada keluhan dan selama ini aman-aman saja, setelah kemarin dia viral maka saya tegur bagian farmasi dan saya sampaikan agar dicetat ini menjadi keluhan," ujarnnya.