Genjot Hilirisasi, Sawit Jadi ‘Miracle Crop’ Andalan RI di Pasar Global
Bagikan

PUBLIKSATU, JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mempercepat hilirisasi kelapa sawit guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
Dengan produktivitas tertinggi di antara minyak nabati lainnya, efisiensi penggunaan lahan, serta kontribusi besar terhadap devisa negara, komoditas ini kerap disebut sebagai “miracle crop” yang menjadi andalan perekonomian nasional.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman dalam beberapa kesempatan menegaskan kelapa sawit merupakan salah satu tulang punggung perekonomian nasional yang harus dikelola secara optimal dan berkelanjutan.
“Kelapa sawit merupakan salah satu kekuatan besar Indonesia. Produktivitasnya tinggi, efisien dalam penggunaan lahan, dan mampu menggerakkan ekonomi rakyat dari desa hingga industri besar. Inilah yang membuat sawit layak disebut miracle crop,” ujar Mentan Amran.
Berdasarkan data publikasi statistik Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian luas areal kelapa sawit Indonesia pada 2024 dan 2025 (angka sementara) tercatat mencapai 16,83 juta hektare.
Pada tahun 2024, produksi minyak sawit mentah (CPO) nasional mencapai 45,44 juta ton dengan produktivitas rata-rata 3,5 ton per hektare. Pada tahun yang sama, empat provinsi menjadi kontributor terbesar produksi sawit nasional. Provinsi Riau mencatat produksi 9,14 juta ton.
Disusul Kalimantan Barat dengan produksi 4,96 juta ton, Kalimantan Tengah dengan produksi 7,46 juta ton, serta Kalimantan Timur produksi 3,90 juta ton.
Memasuki tahun 2025 (angka sementara), menunjukkan tren peningkatan produksi nasional meningkat menjadi 46,55 juta ton (CPO) dengan produktivitas rata-rata mencapai 3,6 ton per hektare.
Pada tahun 2025, Riau tetap menjadi kontributor terbesar dengan produksi 9,46 juta ton. Kalimantan Barat dengan produksi 4,94 ton, Kalimantan Tengah mencatat produksi 7,59 juta ton, serta Kalimantan Timur sebesar 4,29 juta ton.
Peningkatan produksi tersebut semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia.
Dari sisi perdagangan global, pada tahun 2024 volume ekspor sawit Indonesia tercatat sebesar 32,34 juta ton dengan nilai mencapai 22,85 miliar dolar AS. Sementara pada tahun 2025, volume ekspor meningkat menjadi 36,37 juta ton dengan nilai 28,50 miliar dolar AS. Kenaikan ini menunjukkan peran strategis sawit dalam memperkuat neraca perdagangan dan kontribusinya terhadap devisa negara.
Menurut Mentan Amran, arah kebijakan Kementan saat ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi di sektor hulu, tetapi juga pada penguatan hilirisasi agar nilai tambah dinikmati di dalam negeri.
Pengembangan produk turunan sawit, mulai dari pangan olahan, oleokimia, hingga bioenergi seperti biodiesel, dinilai menjadi kunci memperkokoh ketahanan energi sekaligus memperluas lapangan kerja.