Tajuk

Pemkot Baubau Gelar Pekande-Kandea Bersama Anak Yatim dan Kaum Duafa Peringati Hari Jadi Baubau ke-485 dan HUT Kota Baubau ke-25

Oleh Redaksi · Sabtu, 17 Oktober 2026 19:42 WIB · 2 menit baca
Bagikan
Pemkot Baubau Gelar Pekande-Kandea Bersama Anak Yatim dan Kaum Duafa Peringati Hari Jadi Baubau ke-485 dan  HUT Kota Baubau  ke-25
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Baubau, Dr. H. Idrus Taufik Saidi, S.Kim., M.Si.

PUBLIKSATU, BAUBAU--Pemerintah Kota Baubau menggelar tradisi adat Pekande-kandea yang melibatkan anak yatim piatu, kaum duafa, serta segenap elemen masyarakat di halaman Kantor Wali Kota Baubau, Sabtu (17/10/2026).

Kegiatan akbar ini menjadi puncak perayaan Hari Jadi Baubau ke-485 dan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Baubau ke-25 sebagai Daerah Otonom.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Baubau, Dr. H. Idrus Taufik Saidi, S.Kim., M.Si., menjelaskan bahwa perayaan tahun ini dikemas secara menarik dengan mengedepankan unsur silaturahim melalui tradisi makan bersama.

"Puncak acara tanggal 17 Oktober 2026 saat ini menjadi menarik. Pasca upacara, Pemerintah Kota Baubau menyelenggarakan pekande-kandea yang artinya lebih pada silaturahim bagi tamu undangan dan masyarakat," ujar Idrus Taufik.

Ia menambahkan, kemeriahan perayaan semakin terasa karena tidak hanya dihadiri oleh jajaran pemerintah, Forkopimda, instansi vertikal dan horizontal, serta paguyuban saja, melainkan juga melibatkan perangkat Masjid Agung Keraton, anak yatim, dan kaum duafa secara langsung.

Tidak hanya itu, semangat kebersamaan ini, lanjut Idrus, merupakan wujud rasa syukur atas perjalanan panjang Kota Baubau. Hal tersebut juga sejalan dengan visi misi daerah, yakni mewujudkan Kota Baubau sebagai kota budaya yang cerdas, ramah, dan bermartabat.

Suasana keakraban tampak semakin hangat dengan hadirnya para tamu penting dari luar daerah, di antaranya Bupati Buton Selatan serta Sekretaris Daerah Banyuwangi.

Kehadiran para tokoh serta masyarakat diaspora Buton mengingat Baubau sejak dahulu merupakan pusat pemerintahan mulai dari masa kesultanan, bupatian, hingga kini berbentuk kota, menjadikan momentum HUT ini sebagai ajang melepas rindu dan menikmati sajian kuliner bersama.

Dalam kesempatan yang sama, Idrus memaparkan bahwa pekande-kandea pada dasarnya merupakan bagian dari acara adat dan budaya untuk merawat sejarah masa lalu.

Secara historis, tradisi ini tidak hanya diasosiasikan sebagai ajang mencari jodoh di mana para penjaga talang (panyimbi) diutamakan dari kalangan gadis-gadis. Lebih jauh dari itu, sejarah mencatat bahwa pekande-kandea dahulu diselenggarakan untuk menyambut para pejuang yang baru kembali dari luar daerah.

"Dalam inovasinya sekarang ini, pekande-kandea adalah ritual budaya untuk memperingati sebuah momen penting. Hampir seluruh rangkaian kegiatan ritual budaya di Kota Baubau selaras dengan tahun Hijriah, yang biasanya ditutup dengan menikmati sajian kuliner dalam bentuk pekande-kandea," pungkasnya. (p2)

Bagikan