Berita Terkini
Baubau

Mengintip Peninggalan Kerajaan Tobe-tobe di Kota Baubau, Dipercaya Sebagai Kerajaan Pertama di Buton

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Senin, 3 September 2018 14:03 WIB · 4 menit baca
Mengintip Peninggalan Kerajaan Tobe-tobe di Kota Baubau, Dipercaya Sebagai Kerajaan Pertama di Buton
Pemerhati Budaya Safarudin dan Labunga keturunan Kerajaan Tobe-tobe menjelaskan situs-situs peninggalan kerjaan kepada awak media

GENERASI zaman now perlu tahu bahwa Buton secara umum dan Kota Baubau khususnya menyimpan banyak sejarah kerajaan dan kesultanan. Salah satunya Kerajaan Tobe-tobe di Kelurahan Labalawa, Kecamatan Betoambari yang masih memiliki jejak hingga sekarang.

LAPORAN: FUNARNO-- BUTON POS

PAGI Minggu (2/9), sejumlah kru media baik elektronik maupun cetak menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di lokasi bekas Kerjaan Tobe-tobe. Para jurnalis diundang secara khusus oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Baubau Ali Arham untuk menyusuri jejak kerjaan itu.

Malam sebelumnya, di Group Whasapp (WA) telah tersebar informasi undangan Dinas Pariwisata untuk menelusuri jejak sejarah di Keluarahan Labalawa. Saking menariknya, sekitar 25 orang wartawan ikut dalam penelusuran tersebut.

Sekitar pukul 07.00 Wita, satu per satu wartawan mulai mendatangi kantor Dinas Pariwisata yang terletak di lingkungan Benteng Keraton Buton menggunakan kendaraan roda dua. Tidak hanya itu, sebagian wartawan memakai pakaian khusus untuk masuk hutan.

Sambil menunggu Kadis Pariwisata, wartawan terlebih dahulu menikmati indahnya panorama pancaran cahaya matahari pagi yang menyinari Benteng Keraton sambil menghirup udara segar, makin menambah rasa penasaran tentang kisah dan fakta peninggalan kerajaan Tobe-Tobe.

Menunggu sekitar 30 menit, Kadis Pariwisata akhirnya tiba. Sebelum menuju lokasi dimana letak Kerajaan Tobe-Tobe, terlebih dahulu sarapan pagi persiapan masuk hutan.

Usai sarapan, kemudian kami menuju ke lokasi dimana bekas kerajaan Tobe-Tobe. Untuk sampai ke sana harus menggunakan kendaraan roda dua dan melewati tiga Kelurahan yaitu, Kelurahan Melai, Kelurahan Baadia, dan Kelurahan Waborobo.

Awalnya, informasi yang didapatkan kendaraan tidak bisa masuk langsung ke lokasi situs sejarah. Rencananya kendaraan akan diparkir di Kantor Kelurahan Labalawa. Namun, beberapa masyarakat yang ikut bersama rombongan menyarankan agar membawa masuk kendaraan mendekati situs.

Jalur yang ditempuh terbilang sedikit menantang. Pun demikian kita masih bisa disajikan rindangnya pepohonan hijau, kemudian jalannya yang masih pengerasan membuat medan menuju lokasi situs semakin seru.

Dengan sangat berhati-hati, akhirnya rombongan tiba dititik pemberhentian motor. Kendaraan diparkir di bahu jalan. Aroma mistis mulai terasa. Satu persatu mulai memanjat tebing yang tingginya sekitar 2 meter untuk menuju ke lokasi kerajaan Tobe-Tobe.

Hutan, dan perkebunan masyarakat selangkah demi selangkah dilewati dan sekitar pukul 09.45 Wita akhirnya kami tiba juga di lokasi Kerajaan Tobe-tobe itu berada.

Penampakan sekeliling seperti biasa tak ada jejak yang menonjol. Namun, ternyata ada sebuah lubang kecil yang ditutupi batu di antara pohon-pohon tinggi.

Dikatakan oleh Pemerhati Budaya Safarudin, lubang kecil tersebut adalah salah satu situs sejarah yang membuktikan adanya Kerajaan Tobe-tobe.

Dikisahkan, Kerajaan Tobe-tobe konon adalah kerajaan pertama di Buton, dimana masyarakatnya baru mulai mengenal sistem pemerintahan, sebelumnya yang dikenal adalah penokohan.

"Tokoh atau raja di Kerajaan Toeb-tobe ini konon itu adalah Dungku Sangia, berasal dari Cina jauh sebelum adanya Kerajaan Wolio. Menurut cerita tubuh mereka kecil dan putih-putih," ujar Safarudin di lokasi situs Kerajaan Tobe-tobe.

Tobe-tobe sendiri memiliki arti Ketuban. Fakta sejarah lain yang terdapat di lokasi situs adalah topi baja (topi perang) yang saat ini diamankan oleh pihak Dinas Pariwisata Kota Baubau.

Dalam lubang Tobe-tobe terdapat uang pecahan koin. Safarudin mengatakan, kalau tempat itu juga dijadikan masyarakat sebagai tempat yang dikeramatkan. Tempat seseorang menjalani pertapaan. Sehingga lokasi situs tidak dimiliki pribadi warga dan tidak ada warga yang berkebun di sana.

Menguatkan fakta adanya sebuah kerajaan dan perkampungan di daerah itu, kemudian kami mendatangi situs lain yang dianggap sebagai peninggalan kerajaan Tobe-tobe, yaitu Kaluku Gadi atau kelapa tua dan bekas masjid. Jaraknya sekitar 100 meter dari lubang Tobe-tobe.

Dari lubang Tobe-tobe, kita bisa mendapati jejeran batu gunung yang merupakan kuburan tua dan tidak terurus. Keberadaan kuburan ini makin menambah aroma mistis lokasi itu. Serta makin menguatkan fakta bahwa lokasi ini memang pernah didiami warga.

Kaluku Gadi di pagari oleh warga. Konon kelapa itu adalah kelapa tertua dan sangat tinggi hingga daunnya yang jatuh sampai di daerah Jawa.

Selain itu, ada tiga orang yang dianggap keturunan dari Kerajaan Tobe-tobe salah satunya adalah La Bunga yang saat ini tinggal di Kelurahan Labalawa.

Tidak ada lagi pemukiman warga di lokasi Kerajaan Tobe-tobe. Konon warga Tobe-tobe banyak yang meninggal karena wabah sehingga ada sebagian warga berhasil mengungsi ke Labalawa.

Namun berbeda dengan Dungku Sangia, dikisahkan ia meninggal ditangan Sinpanjonga pada saat bersama menikmati air konau yang dikenal warga setempat. Sinpanjonga yang ingin mendirikan kerajaan Wolio harus melakukan kudeta terhadap Dungku Sangia.

Sementara itu, kata Safarudin, Sinpanjonga adalah salah satu pejabat kerajaan Majapahit yang datang ke tanah Buton untuk mendirikan kerajaan baru.

Sekilas tentang Kerajaan Tobe-Tobe, masyarakat dan para tokoh masih mengakui kerajaan Tobe-Tobe sebagai suatu peradaban pertama di Buton.

Diyakini masyarakat, makamnya Dungku Sangia dan Sipanjonga terletak di Kelurahan Labalawa disamping baruga yang sering dijadikan tempat ritual masyarakat setempat. (***)