Puluhan Janda Jompo Kolagana Terabaikan
Bagikan

PUBLIKSATU, BAUBAU - Puluhan warga tidak mampu lingkungan Kolagana Kelurahan Palabusa Kecamatan Lealea tidak tersentuh bantuan apapun dari pemerintah. Mirisnya, banyak dari mereka itu bertatus janda berusia lanjut alias janda jompo.
Sejauh ini yang sudah teridentifikasi, ada 39 kepala keluarga (KK) miskin tidak mendapat bantuan. 14 keluarga diantaranya janda-janda tidak berdaya dan tidak bisa berbahasa Indonesia.
"Jumlah keluarga tidak mampu yang terabaikan ini masih akan bertambah. Sedih sekali mengetahui kondisi warga kampungku begini, setalah sekian lama saya merantau," ungkap Polonusantara, seorang pemuda setempat yang berinisiatif mengindentifikasi warga miskin Kolagana.
Kata dia, rata-rata dari mereka sudah berusia renta. Dari 14 janda yang terindentifikasi, sebagian besar sudah berumur di atas 60 tahun. "Rata-rata mereka ini usia sebenarnya lebih tua dari data yang ada di KTP-nya," imbuhnya.
Saat ditelusuri wartawan, kondisi ini benar-benar nyata. Wa Eri (54), seorang janda tua yang mengaku tidak mendapatkan bantuan sama sekali baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
"Saya sudah janda 10 tahun lebih. Dari dulu saya tidak dapat bantuan apa-apa termasuk beras miskin (Raskin)," ujar Wa Eri ditemui di rumah panggung kecilnya, Jum'at (28/9).
Wanita yang sudah tidak bisa melihat ini mengaku dirinya sudah sering didata pemerintah kelurahan. Tapi, pendataan tersebut seolah tidak berarti apa-apa.
"Anak saya dua orang. Selama ini bertahan hidup dari bantuan anak-anak. Kalau bisa pemerintah perlakukan saya seperti warga miskin lainnya," katanya dalam bahasa daerah.
Tidak jauh dari situ, janda tua lainnya Wa Siia (74) mengakui mengalami hal yang sama. Dia sudah tidak bersuami jauh lebih lama dibandingkan Wa Eri. Sejak berjalannya program keluarga harapan (PKH), ibu tiga anak ini tidak pernah lagi mendapat bantuan.
"Kalau tidak salah ingat 2016 saya masih dapat bantuan Raskin. Tapi, kenapa setahun terakhir ini sudah tidak ada lagi. Sejak saat itu juga saya hanya dibantu anak untuk menyambung hidup," tutur Wa Siia dikonfirmasi di kediamannya.
Sementara itu, Ketua RW 03 Lingkungan Kolagana, La Age mengatakan, pihaknya sudah sampaikan keluhan warga itu ke pemerintah Kelurahan Palabusa. Namun, sampai sekarang belum ada tindak lanjut.
"170 KK di sini, sebagian besar kategori tidak mampu. Saya pun heran, dulu banyak yang dapat Raskin, tapi sekarang sudah setahun belakangan ini, lebih banyak yang tidak dapat," tukas La Age di kediamannya.
Lurah Palabusa, Rukiya mengaku heran juga kenapa warga yang tidak mampu tersebut, kini sudah tidak mendapat bantuan. Padahal, dulunya mereka mendapat bantuan Raskin.
"Mereka ini kasihan yang tidak mampu, kok tidak dapat. Tapi, yang mampu bisa kerja, mereka dapat. Itu yang menjadi pertanyaan saya," jelas Rukiya melalui sambungan telepon seluler.
Dia menerangkan, sejak ada PKH dua tahun belakangan ini, istilah Raskin sudah berubah beras sejahtera (Rastra). Program ini, diberikan bantuan 10 kilo beras per bulan kepada setiap KK tidak mampu.
"Data penerima Rastra itu dari pusat. Kalau yang tidak terkafer PKH berarti mereka tidak dapat bantuan. Memang ada dari mereka yang dulunya dapat Raskin sudah tidak terkafer PKH," ulasnya.
Rukiya membantah tidak berbuat apa-apa terkait penderitaan yang dialami warganya itu. Pihaknya sudah sering menyerahkan data-warga tidak mampu ke Dinas Sosial (Dinsos) Baubau, namun tetap tidak terkafer di PKH.
"Nama-nama mereka ini sudah beberapa kali saya sampaikan ke Dinas Sosial, tapi tidak terkafer di PKH. Kalau bantuan-bantuan dari pemerintah kota, kita gilir, karena di Palabusa ibu banyak warga miskin," pungkasnya. (exa)